Hal itulah yang menjadi sebab, rambut gimbal harus dikembalikan ke Nyai Ratu Selatan lewat tradisi Ruwat Gimbal atau pemotongan rambut ini.
Tak hanya itu, tradisi Ruwat Gimbal ini juga dipercaya masyarakat lokal Dieng sebagai upaya membuang hal buruk yang akan dialami oleh sang anak lantaran memiliki rambut gimbal.
Hal lain yang mengharuskan anak-anak berambut gimbal di Dataran Tinggi Dieng menjalani tradisi Ruwat Gimbal, lantaran mereka cenderung nakal, usil, dan lebih rewel.
Selain itu, anak-anak berambut gimbal juga jadi lebih sering sakit, meski di baliknya tak jarang menyimpan berkah luar biasa.
Namun, tradisi Ruwat Gimbal tidak bisa dilakukan sembarangan. Sebelum mencukur rambut, para orang tua harus memenuhi dan menuruti permintaan dari sang anak.
Hal ini dilakukan agar ritual tersebut berhasil sepenuhnya, sehingga rambut anak tidak kembali gimbal.***
Artikel Terkait
Cuman di Banyuwangi, Ada Tradisi Berdandan Seperti Kerbau Tiap Malam 10 Suro: Kebo-keboan Upacara Syukuran Hasil Panen
Siapa Syekh Jumadil Kubro Semarang? Sumber Keilmuan Wali Songo yang Dikenal dengan Tradisi Tasawuf
Makam Keramat Ki Ageng Balak, Asal-usul Nama hingga Adanya Tradisi Pulung Langse pada Akhir Bulan Suro
Fakta Menarik Alas Ketonggo Ngawi, Gerbang Wisata Gaib Gunung Lawu yang Punya Tradisi Unik Setahun Sekali
Tante Lien Korban Sinterklas Hitam, Apa Itu? Kisah Irian Barat, Presiden Soekarno dan Tradisi Berusia Ratusan Tahun