Kamis, 4 Juni 2026

Penyebab Sunan Bayat Tinggalkan Kekuasaannya di Semarang ke Daerah Bayat, Benarkah Ada Keterlibatan Sunan Kalijaga?

Photo Author
Sinta Dewi Utami, Sketsa Nusantara
- Selasa, 16 Juli 2024 | 11:30 WIB
Makam Sunan Bayat di Klaten, Jawa Tengah. (  Instagram @enggaraswin)
Makam Sunan Bayat di Klaten, Jawa Tengah. ( Instagram @enggaraswin)

Pangeran Hadiwijaya pun memutuskan untuk melakukan peningkatan daerah dan menjadikan Semarang setingkat dengan Kabupaten pada 2 Mei tahun 1574 Masehi.

Tetapi, lambat laun Pemerintahan Semarang yang dibawah kuasa Sunan Bayat atau Pangeran Pandanaran ini berubah menjadi sangat buruk.

Baca Juga: Ini Dia Deretan 7 Kota Paling Sepi yang Ada di Indonesia, Jadi Serasa Tenang Kalau Datang ke Sini!

Pangeran Pandanaran tidak menjalankan tugas kenegaraannya dengan baik serta lalai untuk mengerjakan tugas wajib sebagai umat Islam serta tidak merawat pondok pesantren dan tempat ibadah dengan baik.

Sultan Demak Bintoro yang mendengar hal itu akhirnya mengutus Sunan Kalijaga untuk menyadarkanya.

Sunan Kalijaga pun setuju dan pergi mendatangi Pangeran Pandanaran dan terus berusaha menasehatinya agar tidak sombong dan jangan memuja hartanya dengan berlebihan.

Baca Juga: Konsep Ketuhanannya Sama dengan Islam, Inilah Agama Leluhur Nusantara yang Sudah Ada Sejak Ribuan Tahun Lalu

Setelah berbagai cara sudah dilakukan oleh Sunan Kalijaga, akhirnya Pemimpin Semarang itu menyadari kesalahannya dan memilih meninggalkan tahtanya serta digantikan oleh sang adik.

Setelah itu Pangeran Pandanaran ini mengikuti saran dari Sunan Kalijaga untuk pergi bersama Istrinya dengan tidak membawa harta apapun menuju Gunung Jabalkat.

Sejak saat itu, ia bertekad untuk memperdalam ilmu Agama dengan menjadi murid Sunan Kalijaga.

Baca Juga: Belajar Kesederhanaan dari Gethuk, Jajanan Unik Khas Jawa yang Memiliki Cita Rasa Manis dan Legit Ketika Disantap

Setelah ia mampu menyerap semua pengetahuan yang diajarkan, Pangeran Pandanaran pun ikut serta menyebarkan dakwah Islam di daerah Jabalkat dan mendirikan sebuah masjid di Bukit Gala.

Selain berdakwah, dirinya juga mengajarkan cara bercocok tanam dan bergaul dengan baik antara sesama manusia.

Ajaran dari Sunan Bayat yang paling terkenal "Patembayatan" yang artinya kerukunan atau gotong royong.

Baca Juga: Mitos Puncak Gunung Lawu, Konon Jadi Tempat Pengasingan Prabu Majapahit Brawijaya V 

Halaman:

Editor: Rizqillah

Sumber: jatengprov.go.id

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X