Kamis, 4 Juni 2026

Penuh Filosofi, Asal Usul Sate Klathak hingga Jadi Makanan Khas Bantul Yogyakarta, Bukan Sekedar Kuliner Biasa

Photo Author
Siti Nurlaela Hanifah, Sketsa Nusantara
- Jumat, 14 Juni 2024 | 17:30 WIB
Sate Klathak, kuliner identitas masyarakat Bantul yang sarat filosofi kehidupan (Tangkapan layar YouTube Rumah Canda Melki)
Sate Klathak, kuliner identitas masyarakat Bantul yang sarat filosofi kehidupan (Tangkapan layar YouTube Rumah Canda Melki)

Apalagi daging kambing untuk Sate Klathak tidak diboleh dicuci karena bisa mempengaruhi rasa dan teksturnya.

Begitu juga soal bumbu, berbeda dengan sate pada umumnya yang menggunakan kecap, Sate Klathak hanya dilumuri garam sebelum dibakar.

Proses pembuatan Sate Klathak ini mengajarkan nilai dan makna tentang kebersihan, ketelitian hingga kesederhanaan.

Baca Juga: Santap Kuliner Nusantara Sambil Menikmati Pemandangan Ala Swiss? Ini Hidden Gem Paling Oke di Probolinggo

Sate Klathak merupakan salah satu makanan yang dimasak dengan cara sederhana namun tetap lezat hingga menjadi identitas kuliner masyarakat setempat.

Lantas kenapa disebut ‘Klathak’? Eits, itu bukan nama daerah atau nama penemu sate ini ya.

Ada beberapa versi tentang penamaan Sate Klathak.

Pertama, Klathak berasal dari kata melinjo, lantaran saat pertama berjualan Sate Klathak, Mbah Ambyah menjajakan jualannya di bawah pohon ini.

Kedua, klathak berasal dari bunyi-bunyian yang muncul saat sate dibakar, perpaduan antara bara api, besi dan garam yang dilumuri pada daging kambing.

Nah, jadi itulah kisah lahirnya Sate Klathak, salah satu makanan khas Bantul, Yogyakarta.***

Halaman:

Editor: Siti Nurlaela Hanifah

Sumber: warisanbudaya.kemdikbud.go.id

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X