Kemudian, makanan yang sudah dihidangkan dibagikan kepada masyarakat sekitar, lalu disantap bersama-sama.
Akademisi pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Siwi Indarti, M.P. menyebut bahwa tradisi tersebut adalah bentuk rasa syukur atas proses budidaya padi yang telah mencapai masa panen.
“Wiwitan ini sebagai bentuk rasa syukur karena setelah melewati proses budidaya padi, kita bisa sampai di waktu panen pagi ini”, ujarnya, dikutip dari situs PIAT (Pusat Inovasi Agro Teknologi) UGM.
Selain sebagai ungkapan rasa syukur, Wiwitan juga mencerminkan hubungan harmonis antara manusia dan alam.
Selain itu, ritual ini menjadi praktik konkrit menjaga kelestarian tradisi pertanian yang telah berlangsung turun-temurun.***
Artikel Terkait
Hidden Gem! Sensasi Syahdu Nongkrong di Cafe Tengah Air Terjun, Cuma 7 KM Dari Pusat Kota Tuban
1 Jam Menuju Hidden Gem Coban Jahe, Cek Rute Perjalanan ke Wisata Paling Syahdu di Malang
Menilik Makna Coban Jahe, Wisata Terbaik di Malang yang Ternyata Berkaitan dengan Sejarah Penjajahan Belanda
Nikmati Petualangan Unik di Pasar Terapung Lok Baintan Banjar, Menilik Serunya Sensasi Berbelanja di Atas Air
Surga Tersembunyi di Padang: Keindahan Sungai Biru di Kampung Batu Busuak, Nikmati Sensasi Mandi Ditemani Ratusan Ikan