Tongkat estafet pemerintahan Kesultanan Cirebon berlanjut hingga cicit Sunan Gunung Jati yang dikenal dengan nama Sultan Abdul Karim dengan julukan Panembahan Girilaya.
Kesultanan Cirebon kemudian terpecah usai menjadi dua yakni Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman.
Baca Juga: Di Balik Rasa Manis Gudeg Yogyakarta, Ternyata Ada Sejarah yang Pahit
Keraton Kasepuhan dipimpin oleh Pangeran Martawijaya yang disebut juga dengan Sultan Sepuh dan Keraton Kanoman dipimpin oleh Pangeran Kartawijaya atau Pangeran Anom.
Namun pada tahun 1800, keraton Kanoman dipecah kembali menjadi 2 yakni keraton Kanoman dan Keraton Kacirebonan.
Dan terakhir, pada tahun 1900-an diproklamirkanlah satu keraton lagi yakni Keraton Keprabonan yag dulu digunakan sebagai tempat untuk mengaji.
Hingga saat ini keempat keraton masih berdiri dan dipimpin oleh keturunannya masing-masing.***
Artikel Terkait
15 Rekomendasi Wisata yang Lokasinya Berdekatan di Bali, Sehari Bisa Datang ke-3 Lokasi Secara Efisien!
Di Balik Rasa Manis Gudeg Yogyakarta, Ternyata Ada Sejarah yang Pahit
5 Fakta Gunung Sewu, Lokasi Beach Club Raffi Ahmad di Gunung Kidul, Salah Satu Geopark Warisan Dunia Loh
1 Jam Menuju Hidden Gem Coban Jahe, Cek Rute Perjalanan ke Wisata Paling Syahdu di Malang
Menilik Makna Coban Jahe, Wisata Terbaik di Malang yang Ternyata Berkaitan dengan Sejarah Penjajahan Belanda
Nikmati Petualangan Unik di Pasar Terapung Lok Baintan Banjar, Menilik Serunya Sensasi Berbelanja di Atas Air
Surga Tersembunyi di Padang: Keindahan Sungai Biru di Kampung Batu Busuak, Nikmati Sensasi Mandi Ditemani Ratusan Ikan
Pesona Air Terjun Waimarang yang Tersembunyi, Surga Alam Berwarna Biru di Kabupaten Sumba Timur
Kisah Sunan Kudus Larang Masyarakat Kudus Sembelih Sapi hingga Pilih Kerbau untuk Hewan Kurban Idul Adha
Wisata ala Kampung Jepang di Lumajang: Sajikan Perkebunan Organik Sayur hingga Tanaman Herbal