SketsaNusantara.id - Bus Damri pernah menjadi salah satu moda transportasi yang cukup populer di Jember, terutama pada era 1990-an.
Bagi generasi yang tumbuh pada masa tersebut, keberadaan bus ini tentu bukan hal yang asing.
Sejarah Damri sendiri berawal jauh sebelum masa itu. Pada tahun 1943, pemerintah pendudukan Jepang mendirikan dua perusahaan transportasi, yakni Zidosha Sokyoku dan Jawa Unyu Zigyosha.
Baca Juga: Bukan Wali Songo, Ini Kisah Sunan Bayat dan Legenda Karomahnya yang Mengutuk Perampok Menjadi Domba
Setelah Indonesia merdeka, kedua perusahaan tersebut diambil alih oleh pemerintah dan kemudian digabung menjadi satu dengan nama Djawatan Angkutan Motor Republik Indonesia atau yang lebih dikenal sebagai DAMRI.
Pembentukan DAMRI juga diperkuat melalui Maklumat Kementerian Perhubungan RI No.01/DAMRI/46 tertanggal 25 November 1946.
Dalam maklumat tersebut disebutkan bahwa DAMRI bertugas menyelenggarakan angkutan penumpang dan barang di jalan raya menggunakan kendaraan bermotor.
Di Jember, Bus Damri sempat menjadi transportasi andalan masyarakat, khususnya para pelajar.
Berdasarkan wawancara dengan sejarawan Jember, RZ Hakim, pada era 1990-an tarif Bus Damri untuk pelajar hanya sekitar Rp50.
Seiring berjalannya waktu, tarif tersebut perlahan mengalami kenaikan. Mulai dari Rp100, kemudian Rp200, hingga akhirnya melonjak saat krisis moneter pada April–Mei 1998.
Pada masa itu, tarif Bus Damri bahkan sempat meningkat hingga dua kali lipat dari harga sebelumnya.
Popularitas Bus Damri di Jember tidak hanya karena tarifnya yang terjangkau, tetapi juga karena menjadi sarana transportasi favorit pelajar pada masanya.
Artikel Terkait
3 Pantai di Kabupaten Jember Ini Bisa Jadi Alternatif Liburan Keluarga di Momen Nataru 2025, Ada Fasilitas Shelter Juga Loh!
5 Tempat Wisata Murah di Jember, Cocok untuk Liburan Tahun Baru, Ada yang Cuma Bayar Parkir Alias Gratis!
Dosen Unmuh Jember Sulap Lahan Gersang Jadi Kebun Anggur Eduwisata, Cocok Jadi Rekomendasi Kegiatan Ngabuburit
Pantai Nanggelan Jember di Meru Betiri, Hamparan Pasir Cappuccino dengan Gugusan Karang dan Alam Hutan Lindung
Desa Wisata Adat Arjasa Jember: Destinasi Edukasi Budaya dengan Warisan Megalitikum, Seni Ritual, hingga Kuliner Khas Lokal
Reruntuhan Majapahit di Jember dengan Mitos Ular Putih dan Petilasan Hayam Wuruk