Minggu, 19 Juli 2026

Monumen Jogja Kembali, Simbol Kemenangan Bangsa yang Terhubung Poros Sakral Yogyakarta

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Minggu, 15 Februari 2026 | 12:00 WIB
Monumen Jogja Kembali di Sleman, Yogyakarta. (Jogjaprov.go.id)
Monumen Jogja Kembali di Sleman, Yogyakarta. (Jogjaprov.go.id)

SketsaNusantara.id - Monumen Jogja Kembali berdiri megah di Dusun Jongkang, Kelurahan Sariharjo, Kecamatan Ngaglik, Sleman, Yogyakarta.

Bangunan ini menjadi simbol penting kembalinya pemerintahan Republik Indonesia ke Yogyakarta setelah agresi militer Belanda.

Monumen ini dibangun untuk menghargai jasa para pejuang. Mereka berhasil memaksa tentara Belanda mundur dan mempertahankan eksistensi Republik Indonesia di mata dunia internasional.

Baca Juga: Jarang Terekspos, Museum Sejarah Purbakala Pleret di Bantul Simpan Puluhan Artefak Kuno dan Sumur Gumuling yang Sarat Cerita

Keunikan Monumen Jogja Kembali terletak pada posisinya. Dilansir dari jogjaprov.go.id, pembangunan gedung mengikuti poros imajiner Laut Selatan, Panggung Krapyak, Keraton Yogyakarta, Tugu, hingga Gunung Merapi.

Sebelum memasuki area utama, pengunjung melewati dua pintu masuk di sisi barat dan timur.

Pintu timur menampilkan replika Pesawat Cureng, sedangkan sisi barat dihiasi replika Pesawat Guntai.

Baca Juga: Museum Tani Jawa Indonesia Imogiri Bantul, Destinasi Edukasi Pertanian yang Menyimpan Ratusan Alat Tradisional Bersejarah

Di atas podium barat dan timur, pengunjung dapat melihat dua senjata mesin beroda. Senjata tersebut lengkap dengan tempat duduk, menghadirkan nuansa perjuangan masa lalu.

Setelah melewati podium, pengunjung tiba di pelataran depan kaki gunung monumen. Pada ujung selatan pelataran berdiri dinding yang memuat 420 nama pejuang gugur.

Nama-nama tersebut tercatat sebagai korban dalam rentang 19 Desember 1948 hingga 29 Juni 1949. Di bagian ini juga terukir puisi Karawang Bekasi karya Chairil Anwar.

Bangunan utama monumen mengusung konsep bunga teratai. Struktur bangunan dikelilingi kolam air yang terbagi menjadi empat pintu utama.

Keempat pintu tersebut berada di sisi barat, timur, utara, dan selatan. Pintu barat dan timur mengarah ke lantai satu bangunan.

Lantai satu terdiri dari empat ruang museum. Salah satu ruang menampilkan kursi tandu Panglima Besar Jenderal Sudirman saat memimpin perang gerilya.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Sumber: jogjaprov.go.id

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X