SketsaNusantara.id - Selama ini, narasi sejarah Kabupaten Jombang sering kali didominasi oleh identitasnya sebagai "Kota Santri".
Literatur yang beredar luas di masyarakat umumnya berfokus pada sejarah pondok pesantren besar, biografi ulama kharismatik, atau heroisme santri dalam perjuangan kemerdekaan.
Padahal, jika ditelisik lebih dalam melalui kacamata historiografi perkotaan, Jombang memiliki kekayaan sejarah non-santri yang sangat beragam dan menarik untuk digali, mulai dari aspek ekologi, arkeologi, hingga dinamika sosio-ekonomi masyarakatnya.
Berbagai penelitian terbaru mulai bermunculan untuk mengisi kekosongan narasi tersebut. Para peneliti dari berbagai latar belakang keilmuan mencoba mengangkat sisi lain Jombang yang selama ini luput dari sorotan.
Jombang sejatinya adalah sebuah historical landscape di mana setiap jengkal tanahnya menyimpan lapisan cerita dari berbagai zaman, mulai dari era kerajaan klasik hingga masa pembangunan modern.
Dikutip SketsaNusantara.id dari jurnal karya Kusuma, A. D. (2022). Perkembangan Kota Jombang masa kepemimpinan R.A.A. Soeroadiningrat 1910-1930. Historiography: Journal of Indonesian History and Education, 2(1), 119-129, salah satu kisah paling epik yang terungkap adalah legenda Sendang Made di Kecamatan Kudu.
Baca Juga: Padukan Try Out TKA dan Fashion Show, MAN 9 Jombang Pikat 500 Siswa SMP Tembelang
Berdasarkan studi folklor, lokasi ini diyakini sebagai tempat persembunyian Prabu Airlangga. Dikisahkan, saat pernikahannya dengan putri Dharmawangsa Teguh diserang oleh Haji Wura-Wari, Airlangga terpaksa melarikan diri bersama para dayangnya.
Di wilayah yang kini dikenal sebagai Sendang Made inilah, sang raja bersembunyi selama kurang lebih tiga tahun. Untuk bertahan hidup dan mengelabui musuh, Airlangga bahkan dikisahkan melakukan penyamaran ekstrem menjadi seorang pengamen.
Sendang atau mata air yang dibangunnya kala itu kini dipercaya masyarakat memiliki kekuatan supranatural dan kerap menjadi lokasi ritual budaya. Kisah ini juga sempat melahirkan seni tari kreasi baru bernama "Tari Kenya Made" yang sempat menjadi ikon pariwisata sebelum mengalami kemunduran regenerasi penari pada tahun 2014.
Tak hanya kisah raja, Jombang juga menyimpan jejak kebesaran Ratu Majapahit, Tribhuwana Wijayottunggadewi (1328–1350 M). Di Candi Rimbi, yang diduga dibangun pada tahun 1384 M, sang ratu didharmakan.
Keunikan candi yang menghadap ke barat ini terletak pada kekayaan ornamen reliefnya. Mulai dari gambaran kehidupan sehari-hari masyarakat kuno, motif sulur tanaman, relief Garudeya, hingga medalion berlambang Surya Majapahit. Keindahan ornamen Candi Rimbi inilah yang di kemudian hari menginspirasi para perajin lokal untuk mengembangkan motif Batik Arimbi khas Jombang.
Bergeser ke era yang lebih modern, historiografi Jombang juga mencatat dinamika transportasi yang dramatis. Sebuah studi mengungkap kemunduran layanan perkeretaapian, khususnya jalur Jombang-Babat yang legendaris. Jalur ini resmi ditutup total pada tahun 1981.
Artikel Terkait
Bupati Jombang Buka Festival Cublak Suweng 2026 di Bait Kata School
Fokus Pembentukan Karakter Siswa, IPNU-IPPNU di Jombang Gelar Makesta
Mengenal KH Adlan Aly, Ulama Hafiz Qur'an dan Pendiri Pesantren Putri Pertama di Cukir Jombang
Teknologi Picu Degradasi Moral, LP Ma'arif NU Jombang Siap Jaga Nilai Agama Sekaligus Dorong Inovasi Pembelajaran
Hendak Masuk PTN, Ribuan Siswa di Jombang Ikuti Doa Bersama