SketsaNusantara.id - Yogyakarta salah satu kota yang hingga saat ini masih sangat dekat dengan tradisi dan budaya.
Salah satu tradisi di Yogyakarta yang tergolong sangat unik adalah Tradisi Cembengan. Tradisi ini merupakan tradisi menikahkan tebu bak manusia yang dilakukan setiap menyambut musim panen tebu.
Bahkan dalam Tradisi Cembengan di Yogyakarta manten tebu tersebut juga dirias seperti sepasang mempelai pria dan wanita yang menikah.
Baca Juga: Hanya di Bantul Yogyakarta, Sejarah Wayang Langka Pertama di Indonesia Disimpan di Museum ini
Dilansir dari SketsaNusantara.id dari Jurnal JOGED yang ditulis oleh Anas.F.N, dkk, Volume (24), Nomor (1), 2025, Tradisi Cembengan di Yogyakarta dilaksanakan setiap bulan April sejak masa pemerintahan Belanda.
Tujuan Tradisi Cembengan di Yogyakarta rupanya untuk menyambut panen dan giling tebu, dengan harapan bisa mendapatkan hasil yang melimpah, diberikan keselamatan dan kelancaran saat proses giling tebu.
Sebelumnya, Tradisi Cembengan dilakukan oleh Pabri Gula Tasikmadu dan Madukismo. Namun pada tahun 2021 Pabrik Gula Tasikmadu berhenti beroperasi, sehingga yang masih terus menjalankan tradisi manten tebu sampai saat ini hanya Pabrik Gula Madukismo.
Baca Juga: Makna Hajad Dalem Labuhan yang Digelar Keraton Yogyakarta, Tradisi Sakral Parangkusumo Sarat Nilai Spiritual dan Budaya
Pabrik Madukismo diprakarsai oleh Sri Hamengkubuwana IX pada tahun 1955, yang sebelumnya diberi nama Pabrik Gula Padokan.
Pabrik tersebut terletak di Kelurahan Tirtonimolo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Rangkaian Upacara Tradisi Cembengan di Pabrik Gula Madukismo Yogyakarta
Upacara Tradisi Cembengan dilakukan sebelum proses penggilingan, yang mana biasanya dilakukan setiap Bulan April. Hal ini dikarenakan proses giling dilakukan pada Bulan Mei-September.
Baca Juga: Desa Wisata Kasongan Bantul, Sentra Gerabah Yogyakarta dengan Sejarah Panjang dan Deretan Showroom Kerajinan
Tradisi Cembengan dimulai dengan petik tebu, yang nantinya akan ditentukan jenis kelamin diantara keduanya. Tebu diambil dari lahan milik Pabrik Gula Madukismo dan juga milik petani.
Petik tebu ini dilakukan oleh sesepuh dari pabrik gula dan petani. Tebu yang berwarna hijau dan dicabut dari lahan pabrik akan berjenis kelamin perempuan, sedangkan tebu merah yang diambil dari lahan petani berjenis kelamin laki-laki.
Setelah acara petik tebu, maka tahap selanjutnya pingit manten. Pingit manten ini dilakukan untuk menjaga agar tehindar dari bahaya yang kemungkinan bisa terjadi.
Biasanya tebu yang akan menjadi manten dipingit dengan disimpan semalam di sebuah gubug, yang kerap dikenal dengan sebutan Pondok Asri.
Sebelum dipingit, kedua tebu dirias seperti manusia, bahkan juga memakai kalung melati.
Keesokan harinya, tebu manten yang sudah dipingit dikeluarkan dari Pondok Asri untuk melakukan tahap selanjutnya, yakni proses ijab tebu.
Dimulai dengan melakukan arak-arakan dari Pondok Asri menuju sebuah masjid sebagai tempat ijab tebu. Tentu tak lupa juga untuk membawa mahar selayaknya manusia yang akan melakukan ijab qabul.
Bahkan proses ijabnya pun tidak beda jauh dengan manusia, di sana juga dihadirkan seorang kyai dan wali. Apabila rangkaian ijab sudah selesai, manten tebu itu kembali diarak menuju pabrik gula hingga sampai mesin penggilingan.
Pada saat diarak dari masjid ke mesin penggilingan, manten tebu dinaikan kereta kencana dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang ditarik oleh seekor kuda.
Setiba di mesin penggilingan biasanya akan dilakukan doa bersama, tentu tak lupa sesaji yang dibutuhkan juga telah disiapkan.
Sesaji yang disediakan untuk Tradisi Cembengan berupa ayam panggang, tumpeng, dan kepala kerbau.
Dalam doa selamatan terdapat prosesi pendem sirah kebo yang dilakukan dengan mengubur kepala kerbau di tanah rel kereta lori (pengangkut tebu) yang dilakukan oleh para kepala manajemen pabrik.
Perayaan Tradisi Cembengan biasanya dilakukan selama satu hingga dua pekan, berupa pesta rakyat atau pasar malam. Biasanya pada acara perayaan itu akan banyak bazar makanan dan minuman, hingga berbagai hiburan lainnya. ***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara. Di sini. KLIK DI SINI!
Artikel Terkait
Tak Pakai Kacang dan Kecap, Sate Ratu Yogyakarta Jadi Destinasi Kuliner Favorit Wisatawan Lokal dan Mancanegara
Daya Tarik Desa Wisata Gabugan Sleman Yogyakarta, Konsep Pedesaan Alami dengan Agrowisata Salak Gading dan Aktivitas Edukatif
Daya Tarik Desa Wisata Trumpon Sleman Yogyakarta: Kebun Salak Pondoh dengan Pemandangan Merapi hingga Menoreh
5 Spot Pasar Jajanan Ramadhan 2026 di Yogyakarta yang Selalu Ramai Dikunjungi Warga untuk Berburu Takjil Menjelang Waktu Berbuka
Desa Wisata Banjaroya Kulon Progo di Lereng Menoreh, Alternatif Wisata Alam dan Budaya Dekat Yogyakarta