Kamis, 4 Juni 2026

Bukan di Mojokerto, Ternyata Pintu Masuk ke Kerajaan Majapahit via Jalur Air ada di Wilayah Ini, Dilewati Banyak Sungai Purba?

Photo Author
Hari Prasetia, Sketsa Nusantara
- Minggu, 25 Januari 2026 | 10:12 WIB
Situs Trowulan, ibukota Majapahit (tourism.surabaya.go.id)
Situs Trowulan, ibukota Majapahit (tourism.surabaya.go.id)

 

SketsaNusantara.id - Kemegahan Kerajaan Majapahit yang berpusat di Trowulan, Mojokerto, memang sudah tersohor ke seantero dunia.

Meski diyakini berpusat di Trowulan, Mojokerto, namun rupanya 'pintu masuk' Majapahit ada di tempat lain loh!

Informasi ini sempat diunggah akun resmi Kementerian Pariwisata @pesona.indonesia pada 13 April 2024 lalu.

Baca Juga: Jejak Nawa Dewata di Balik Konsep Wali Songo pada Era Majapahit, Penjaga Alam Semesta yang Melindungi Arah Mata Angin

“Zaman dulu, wilayah yang kini menjadi Jombang adalah pintu gerbang Majapahit,” tulis akun tersebut.

Bahwa pada zaman dulu, Jombang merupakan pintu gerbang Majapahit sebelum akhirnya menjadi bagian dari kerajaan Mataram Islam.

Tak hanya itu, sejumlah gapura yang ada di Jombang juga diyakini sebagai gerbang masuk ke kerajaan Majaphit.

Seperti gapura barat di Desa Tunggorono dan gapura selatan di Desa Ngrimbi, Kecamatan Bareng.

Jombang sebagai gerbang masuk Majapahit juga diperkuat juga dengan hasil penelitan sejumlah arkeolog yang memperkirakan pintu gerbang utama untuk memasuki kota metropolitan kuno tersebut ada di kota berjulukan Kota Santri ini.

Baca Juga: Candi Peninggalan Zaman Majapahit Ditemukan di Jember! Napak Tilas Lokasi Persinggahan Prabu Hayam Wuruk 

Diyakini, gerbang utama untuk masuk ke kerajaan Majapahit berada di Kecamatan. Sumobito, Kabupaten Jombang.

Keyakinan tersebut muncul usai fakta temuan arkeologis yang diungkap dalam penelitian berjudul "Jalan Masuk Kota Majapahit: Kajian Situs-Situs Arkeologi di Kecamatan Sumobito, Jombang, Jawa Timur".

Riset ini dilakukan oleh arkeolog senior, Nurhadi Rangkuti, dan diterbitkan dalam jurnal ilmiah Berkala Arkeologi Vol. 25 No. 1.

Halaman:

Editor: Siti Nurlaela Hanifah

Sumber: Berkala Arkeologi (November 2005)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X