Pusat kajian itu terdiri atas balai pendidikan, lembaga pengembangan ilmu, dan himpunan ulama. Lembaga-lembaga ini menunjukkan tingginya perhatian terhadap ilmu keagamaan dan sosial.
Sistem pendidikan Aceh juga berkembang pesat. Tingkat pendidikan dimulai dari Meunasah, Kangkang, Daya, hingga Daya Teuku Cik yang setara perguruan tinggi. Di tingkat lanjutan itu diajarkan ilmu tafsir, tasawuf, dan berbagai kajian keagamaan lain.
Tokoh sufi juga muncul dari masa itu, seperti Hamzah Fansuri dan Syamsuddin as-Sumatrani. Salah satu tokoh lain adalah Nuruddin ar-Raniri meski ia tidak mendapat sambutan baik dari Sultan.
Gambaran masa keemasan Aceh menunjukkan pencapaian yang luas. Aceh menjadi wilayah yang kuat dan berpengaruh. Pada masa itu, Aceh disebut sebagai penghalang bagi kekuatan Barat yang ingin menguasai Nusantara.
Di akhir masa pemerintahannya, hubungan dengan Belanda berubah setelah serangan ke Malaka tahun 1629. Perubahan itu membuat aturan perdagangan yang sebelumnya ketat menjadi longgar. Peristiwa ini memberi dampak baru dalam hubungan Aceh dengan bangsa Eropa.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!
Artikel Terkait
Jaraknya 73 KM dari Candi Prambanan, Pemandian Air Hangat Ini Usianya 400 Tahun Lebih Tua dari Kerajaan Majapahit, di Mana?
Melintasi Waktu di Desa Wotawati Gunungkidul, Dusun Bernuansa Kerajaan Kuno yang Punya Malam Lebih Panjang
Bocor! Undangan Pernikahan Al Ghazali-Alyssa Bergaya Gulungan Kerajaan, Netizen Sentil Ahmad Dhani: Dibajak Mertua Sendiri
5 Fakta Blue Sapphire Maia Estianty di Nikahan Al Ghazali, Perhiasan Mewah Penuh Makna yang Kerap Dipakai Keluarga Kerajaan Mirip Punya Kate Middleton
Dihadiri Artis Papan Atas Hingga Keluarga Kerajaan Malaysia, Rossa Dinobatkan sebagai 'Queen of Pop' Setelah Pecahkan Rekor Konser 2 Negara