Kamis, 4 Juni 2026

7 Benteng di Maluku yang Jadi Saksi Persaingan Portugis, Spanyol, dan Belanda dalam Perburuan Rempah

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Kamis, 6 November 2025 | 17:00 WIB
Ilustrasi daftar benteng Portugis warisan kolonialisme di Maluku. (Pexels/0xd1ma)
Ilustrasi daftar benteng Portugis warisan kolonialisme di Maluku. (Pexels/0xd1ma)

Benteng ini sempat ditinggalkan Belanda tahun 1625, kemudian diduduki Spanyol hingga 1663.

Setelah Spanyol pergi, Belanda kembali merebutnya dan memperbaiki bangunannya pada 1799 atas perintah Mayor van Lutnow.

4. Benteng Santo Lucas (Tolukko)

Benteng ini dibangun oleh Portugis Francisco Serrao pada 1540 dan dikenal dengan nama Santo Lucas. Setelah dikuasai Belanda pada 1610, benteng direnovasi oleh Gubernur Pieter Both dan diberi nama Benteng Hollandia.

Tahun 1661, VOC mengizinkan Sultan Ternate Mandarsyah menempati benteng ini bersama 160 prajuritnya. Pada 1692, namanya diubah menjadi Benteng Tolukko, mengikuti nama anak Sultan Ternate yang berkuasa saat itu.

5. Benteng Oranje, Ternate

Benteng Oranje adalah simbol dominasi Belanda di Ternate. Dibangun pada 1607 oleh Laksamana Cornelis Matelief de Jonge, benteng ini awalnya disebut Benteng Melayu karena lokasinya berada di kawasan permukiman Melayu.

Dua tahun kemudian, Gubernur Paulus van Carden mengubah namanya menjadi Benteng Oranje.

Tempat ini sempat menjadi markas besar VOC sebelum pusat pemerintahan kolonial dipindahkan ke Batavia.

Beberapa gubernur besar VOC seperti Pieter Both, Gerard Reynst, dan Laurens Reael pernah berkantor di sini antara tahun 1610 hingga 1619.

6. Benteng Tahula, Tidore

Benteng ini dibangun oleh Portugis di atas bukit batu setinggi sekitar 50 meter di selatan Kota Soasio, Tidore. Dari sini, seluruh wilayah sekitarnya dapat diawasi dengan jelas.

Tanggal pembangunan pastinya tidak diketahui, namun benteng ini diyakini berfungsi penting dalam pertahanan Portugis menghadapi serangan dari laut. Posisi strategisnya menjadikan Tahula salah satu benteng paling berpengaruh di wilayah Tidore.

7. Benteng Bernaveldt, Bacan

Benteng Bernaveldt berdiri di Pulau Bacan sekitar abad ke-18. Tahun 1778 tercatat pada bagian atas salah satu meriamnya, menandakan masa penggunaannya.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Sumber: Warisan Bahari Indonesia, Bambang Budi Utomo, Pustaka Obor,

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X