Minggu, 19 Juli 2026

7 Benteng di Maluku yang Jadi Saksi Persaingan Portugis, Spanyol, dan Belanda dalam Perburuan Rempah

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Kamis, 6 November 2025 | 17:00 WIB
Ilustrasi daftar benteng Portugis warisan kolonialisme di Maluku. (Pexels/0xd1ma)
Ilustrasi daftar benteng Portugis warisan kolonialisme di Maluku. (Pexels/0xd1ma)

SketsaNusantara.id - Pada abad ke-16, aroma rempah-rempah dari Maluku mengundang bangsa Eropa datang berbondong-bondong.

Portugis, Spanyol, dan Belanda bersaing keras untuk memonopoli perdagangan cengkeh yang kala itu disebut “emas hijau”.

Persaingan itu tidak hanya berlangsung di laut, tapi juga di tanah Maluku yang kaya dan strategis.

Baca Juga: Asal Usul Cengkeh dari Maluku: Ini Fakta Sejarah yang Mengubah Peta Perdagangan Dunia

Untuk memperkuat kekuasaan, ketiga bangsa Eropa ini membangun benteng-benteng kokoh di berbagai pulau.

Benteng itu bukan sekadar tempat bertahan, melainkan simbol dominasi, pengawasan, dan kontrol atas penduduk setempat.

Di balik dinding batu yang menjulang, tersimpan kisah perlawanan rakyat Maluku terhadap penindasan dan monopoli perdagangan.

Baca Juga: Jalur Dagang Nusantara Mengguncang Dunia Abad ke-15, Beginilah Perjalanan Rempah dari Barus ke Maluku

Penduduk lokal awalnya menyambut para pendatang sebagai mitra dagang. Namun tekanan dan perjanjian sepihak membuat hubungan itu berubah menjadi penindasan.

“Karena tekanan-tekanan inilah penduduk Maluku kemudian mengadakan perlawanan,” tertulis dalam sejumlah catatan sejarah.

Hingga kini, sisa benteng-benteng itu masih berdiri di Ternate, Tidore, Ambon, Bacan, dan Makian.

Baca Juga: Hukum Maritim Modern Ternyata Lahir dari Nusantara, Inilah Jejak Amanna Gappa dan Raja Bali Kuno

Setiap benteng menjadi pengingat tentang perjuangan panjang rakyat Maluku melawan kekuasaan asing yang datang untuk menguasai rempah.

Dirangkum SketsaNusantara.id dari buku Warisan Bahari Indonesia karya Bambang Budi Utomo terbitan Pustaka Obor tahun 2016, inilah 7 benteng di Maluku tersebut.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Sumber: Warisan Bahari Indonesia, Bambang Budi Utomo, Pustaka Obor,

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X