SketsaNusantara.id - Pada abad ke-16, aroma rempah-rempah dari Maluku mengundang bangsa Eropa datang berbondong-bondong.
Portugis, Spanyol, dan Belanda bersaing keras untuk memonopoli perdagangan cengkeh yang kala itu disebut “emas hijau”.
Persaingan itu tidak hanya berlangsung di laut, tapi juga di tanah Maluku yang kaya dan strategis.
Baca Juga: Asal Usul Cengkeh dari Maluku: Ini Fakta Sejarah yang Mengubah Peta Perdagangan Dunia
Untuk memperkuat kekuasaan, ketiga bangsa Eropa ini membangun benteng-benteng kokoh di berbagai pulau.
Benteng itu bukan sekadar tempat bertahan, melainkan simbol dominasi, pengawasan, dan kontrol atas penduduk setempat.
Di balik dinding batu yang menjulang, tersimpan kisah perlawanan rakyat Maluku terhadap penindasan dan monopoli perdagangan.
Penduduk lokal awalnya menyambut para pendatang sebagai mitra dagang. Namun tekanan dan perjanjian sepihak membuat hubungan itu berubah menjadi penindasan.
“Karena tekanan-tekanan inilah penduduk Maluku kemudian mengadakan perlawanan,” tertulis dalam sejumlah catatan sejarah.
Hingga kini, sisa benteng-benteng itu masih berdiri di Ternate, Tidore, Ambon, Bacan, dan Makian.
Baca Juga: Hukum Maritim Modern Ternyata Lahir dari Nusantara, Inilah Jejak Amanna Gappa dan Raja Bali Kuno
Setiap benteng menjadi pengingat tentang perjuangan panjang rakyat Maluku melawan kekuasaan asing yang datang untuk menguasai rempah.
Dirangkum SketsaNusantara.id dari buku Warisan Bahari Indonesia karya Bambang Budi Utomo terbitan Pustaka Obor tahun 2016, inilah 7 benteng di Maluku tersebut.
Artikel Terkait
Merawat Warisan Tulis Nusantara Aksara Kawi Lewat Mangadhyayaksara di Jember
Tidak Hanya di Pulau Jawa, Inilah 5 Keraton dari Berbagai Daerah di Indonesia yang Jarang Diketahui, Bukti Sejarah Peradaban di Nusantara
Bukan dari Nusantara? Ini Asal Usul Bangsa Bahari yang Menyebar dari Taiwan ke Seluruh Samudra
Sebelum Dunia Mengenal Kapal Katamaran, Pelaut Nusantara Sudah Menciptakannya Ribuan Tahun Lalu
Bukan Gajah Mada yang Pertama, Inilah Sosok yang Bertujuan Menyatukan Nusantara Sebelum Sumpah Palapa Diucapkan