Kamis, 4 Juni 2026

Aroma Wangi dari Maluku Mengguncang Dunia, Inilah Penyebab Penjajahan Panjang di Nusantara

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Kamis, 6 November 2025 | 16:30 WIB
Ilustrasi, awa kolonialisme di Nusantara. (Pexels/Beth Fitzpatrick)
Ilustrasi, awa kolonialisme di Nusantara. (Pexels/Beth Fitzpatrick)

SketsaNusantara.id - Rempah kecil bernama cengkeh pernah menjadi primadona dunia.

Harumnya yang khas dan manfaatnya yang luas menjadikannya komoditas bernilai tinggi.

Catatan sejarah menunjukkan bahwa bunga cengkeh sudah dikenal di Eropa sejak awal tarikh Masehi, bahkan di Timur Tengah jauh sebelumnya.

Baca Juga: Asal Usul Cengkeh dari Maluku: Ini Fakta Sejarah yang Mengubah Peta Perdagangan Dunia

Namun, masyarakat saat itu belum mengetahui asal tanaman beraroma tajam ini.

Dilansir dari buku Warisan Bahari karya Bambang Budi Utomo terbitan Pustaka Obor tahun 2016, cengkeh hanya dapat tumbuh subur di wilayah Maluku. Ada kemungkinan para pedagang Maluku sendiri yang membawa rempah ini keluar kepulauan mereka untuk diperdagangkan.

Sejumlah sumber juga mencatat bahwa perdagangan rempah-rempah kala itu banyak dikuasai saudagar-saudagar dari Jawa pada masa kejayaan Majapahit pada abad ke-14.

Baca Juga: Raja Yogyakarta yang Tak Pernah Tunduk pada Kolonialisme Barat, Inilah Riwayat Sri Sultan Hamengku Buwono II

Awal Kedatangan Bangsa Eropa

Memasuki abad ke-16, bangsa-bangsa Eropa mulai menemukan jalur pelayaran menuju Maluku. Tahun 1512 menjadi titik penting ketika armada Portugis di bawah pimpinan Kapten Antonio d’Abreu dan Francisco Serrao berhasil mencapai wilayah ini.

Kapal pertama tiba di Banda, sementara armada Serrao sempat terdampar di Nusa Penyu sebelum akhirnya kembali ke Melaka membawa muatan rempah-rempah sebagai bukti keberhasilan mereka.

Sejak saat itu, Maluku menjadi tujuan utama para saudagar Eropa. Mereka datang bukan hanya untuk berdagang, tetapi juga menguasai sumber rempah yang disebut sebagai “buah emas.”

Baca Juga: Kerajaan di Poros Timur Nusantara ini Pernah Mengguncang Dunia Maritim di Abad ke-17 hingga Menjadi Pusat Penyebaran Islam

Kisah Magellan dan Tidore

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Sumber: Warisan Bahari Indonesia, Bambang Budi Utomo, Pustaka Obor,

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X