Kamis, 4 Juni 2026

Langka dan Bersejarah! Begini Awal Mula Bebek Suwar Suwir, Hidangan Favorit Sultan Hamengku Buwono IX

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Kamis, 16 Oktober 2025 | 19:30 WIB
Potret Keraton Yogyakarta sebagai bukti keberadaan Kesultanan Tertua di Indonesia yang masih dihormati hingga kini. (jogjaprov.go.id)
Potret Keraton Yogyakarta sebagai bukti keberadaan Kesultanan Tertua di Indonesia yang masih dihormati hingga kini. (jogjaprov.go.id)

SketsaNusantara.id - Yogyakarta memang tak pernah habis menyimpan cerita di setiap sudutnya, termasuk dari meja makan para bangsawan.

Salah satu kisah menarik datang dari dapur Keraton, tentang hidangan istimewa bernama Bebek Suwar Suwir, menu favorit Sultan Hamengku Buwono IX yang memadukan rasa Jawa dan Eropa dalam satu sajian bersejarah.

Dilansir SketsaNusantara.id dari Jogjaprov.go.id, menu ini tercipta ketika Sultan Hamengku Buwono IX menempuh pendidikan di Belanda. Di negeri yang dikenal dengan roti, keju, dan steak itu, Sri Sultan muda rindu dengan masakan Jawa yang kaya rempah.

Baca Juga: 40 Tahun Bertahan, Lotek dan Gado-Gado Bu Ning Jadi Ikon Kuliner Klasik Jogja

Namun, alih-alih sekadar meniru, ia justru bereksperimen menciptakan kombinasi rasa baru yang belum pernah ada sebelumnya. Dari sinilah, lahir hidangan yang kemudian dikenal sebagai Bebek Suwar Suwir.

Bebek Suwar Suwir bukan sekadar sajian daging bebek biasa. Menu ini merupakan hasil kreasi lintas budaya yang merepresentasikan kecerdasan kuliner Sultan IX. Ia membuat hidangan bergaya steak yang tidak dimakan dengan nasi, melainkan dengan buah nanas yang diolah secara khas.

Nanas diiris tipis, kemudian dipanfried menggunakan margarin hingga menghasilkan aroma manis-gurih yang menggoda.

Baca Juga: BRI Dorong UMKM Kuliner Asal Padang Perkuat Branding Menuju Pasar Global

Setelah matang, irisan nanas itu disusun di dasar piring, lalu disiram saus kedondong yang telah dimasak dengan beragam rempah seperti cengkeh dan kayu manis.

Sentuhan asam manis dari buah kedondong berpadu sempurna dengan gurihnya bebek yang diungkep lama dalam bumbu rempah pilihan.

“Aroma bebek yang gurih bercampur dengan nanas dan kedondong yang segar,” begitu penjelasan resep klasik yang masih dijaga hingga kini oleh juru masak tradisional di lingkungan Keraton Yogyakarta.

Cita rasa dari hidangan ini tak hanya unik, tetapi juga membawa filosofi mendalam.

Perpaduan antara bebek yang mewakili kekayaan lokal Nusantara, dan buah tropis seperti nanas serta kedondong, menunjukkan semangat keterbukaan Sultan terhadap budaya luar tanpa kehilangan identitas Jawa.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Sumber: jogjaprov.go.id

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X