Kamis, 4 Juni 2026

Siapa Djiaw Kie Song? Kisah Petani Tionghoa Rengasdengklok yang Rumahnya Jadi Saksi Proklamasi 1945

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Senin, 11 Agustus 2025 | 16:00 WIB
Sosok Djiauw Kie Song, petani Tionghoa pemilik rumah di Rengasdengklok. (Tangkap layar Youtube Yulie Channel)
Sosok Djiauw Kie Song, petani Tionghoa pemilik rumah di Rengasdengklok. (Tangkap layar Youtube Yulie Channel)

SketsaNusantara.id - Siapa Djiaw Kie Song? Nama ini mungkin terdengar asing bagi banyak orang.

Padahal, ia adalah sosok yang rumahnya menjadi saksi bisu salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah Indonesia, yakni Peristiwa Rengasdengklok.

Ia bukanlah seorang jenderal, bukan pula politisi. Ia hanyalah seorang petani Tionghoa sederhana yang kebetulan tinggal di lokasi yang menjadi pusat strategi kemerdekaan.

Baca Juga: Syarat Makna Spiritual, Inilah Fakta Mengejutkan Dipilihnya Tanggal 17 Agustus sebagai Hari Pembacaan Teks Proklamasi oleh Soekarno

Di tengah hiruk pikuk menjelang proklamasi, rumah Djiaw Kie Song di Kampung Bojong Tugu, Rengasdengklok, menjadi tempat para tokoh pemuda seperti Sukarni, Chaerul Saleh, dan Adam Malik mengamankan Soekarno-Hatta. Tujuannya jelas, memastikan proklamasi segera dibacakan tanpa intervensi pihak luar.

Di rumah inilah semangat kemerdekaan dipupuk, dan bendera Merah Putih pertama kali dikibarkan di Rengasdengklok pada 15 Agustus 1945.

Bagi Djiaw, peristiwa itu bukan sekadar momen yang lewat. Ia merelakan rumahnya menjadi markas para pejuang dan juga tempat bermalam Soekarno, Hatta, Fatmawati, serta Guntur Soekarnoputra selama 14-16 Agustus 1945.

Baca Juga: Indonesia Merdeka Tanggal 17 atau 18 Agustus 1945? Inilah Beberapa Fakta Mengejutkan 1 Hari Setelah Pembacaan Teks Proklamasi

Meski berstatus sebagai petani Tionghoa, ia tak pernah meminta imbalan atau pengakuan besar atas jasanya.

Rumah itu sendiri memiliki bentuk sederhana, berdenah memanjang dari barat ke timur dengan atap limasan berbahan genting.

Dindingnya bercat putih dengan tiang kayu hijau muda, dan lantainya dari ubin terakota. Bagian depannya adalah serambi terbuka dengan pintu diapit dua jendela, juga bercat hijau muda.

Letaknya yang dulu berada di tepi Sungai Citarum harus dipindahkan pada 1958 karena pelebaran sungai.

Dikutip SketsaNusantara.id dari kebudayaan.kemdikbud.go.id pada 11 Agustus 2025, Djiaw Kie Song mendapat penghargaan resmi dari Pangdam Siliwangi, Mayjen Ibrahim Adjie, pada 1961. Piagam bernomor 08/TP/DS/1961 itu menjadi satu-satunya pengakuan formal atas jasanya menjaga momen penting kemerdekaan.

Yang menarik, Djiaw pernah berwasiat kepada keluarganya agar tidak meminta imbalan apapun kepada tamu atau pihak manapun yang ingin melihat rumah bersejarah tersebut.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Sumber: kemdikbud.go.id

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X