Berbasis di Dusun Sekardangan, Kanigoro, Blitar, Mbah Ngox mulai menekuni dunia audio sejak era 1980-an.
Dulu, ia hanya membawa speaker kecil dengan sepeda dan sumber listrik dari aki. Saat itu, layanan audionya lebih sering dipakai untuk acara pengajian dan hajatan warga. Dari sinilah tradisi audio karnaval mulai tumbuh, berkembang menjadi gaya khas yang kini dikenal sebagai sound horeg.
Meski kini teknologi berkembang pesat, Mbah Ngox tetap disegani. Suara dari sistem Faskho Sengox dikenal stabil dan khas.
Banyak penggemar yang menyebut suara itu mempertahankan rasa “klasik” khas horeg, tak hanya sekadar keras tapi konon juga enak didengar.
Namanya menjadi acuan, dan bersama grup seperti BJ Hunter, Mbah Ngox disebut-sebut sebagai salah satu pemantik tren battle sound jauh sebelum media sosial mempopulerkannya.
Ia dikenal murah hati dalam berbagi ilmu, bahkan sering memberi arahan kepada teknisi-teknisi muda yang tertarik menekuni bidang serupa.
Dengan pengalaman sejak 1985, Mbah Ngox dari Blitar pantas disebut sebagai sosok penting dalam sejarah sound horeg.
Julukan "Mbahe sound horeg" bukan sekadar lelucon, melainkan pengakuan atas dedikasi panjangnya membangun budaya audio karnaval di tanah Jawa.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!
Artikel Terkait
Jember Akan Aktifkan Kembali Izin Keramaian Sebagai Tindak Lanjut Fatwa Haram Sound Horeg, Begini Tanggapan MUI
Sound Horeg Resmi Dilarang, Warga Pertanyakan Kegiatan di Wilayah Jember Selatan
Soal Fatwa Haram Sound Horeg, Sujiwo Tejo Singgung Polusi Visual Baliho Caleg
Tak Ingin Munculkan Masalah Baru, GP Ansor dan JSSC Jember Ingin Duduk Bareng Bahas Fatwa Haram Sound Horeg
Nggak Takut Fatwa Haram MUI, Pemerintah Desa di Malang Ini Diduga Gelar Pesta Rakyat Pakai Sound Horeg