Kamis, 4 Juni 2026

5 Warisan Misterius Syekh Subakir: Sang Ulama Sakti dari Persia yang Membuka Jalan Islam di Tanah Jawa

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Selasa, 1 Juli 2025 | 08:00 WIB
Ilustrasi kisah Syekh Subakir menyebarkan Islam di tanah Jawa. (Pexels/Johannes Plenio)
Ilustrasi kisah Syekh Subakir menyebarkan Islam di tanah Jawa. (Pexels/Johannes Plenio)

SketsaNusantara.id - Islam memang telah dikenalkan di Nusantara sejak abad ke-7 melalui para pedagang Arab dan Persia.

Namun, proses penerimaannya di tanah Jawa tidak selalu mudah.

Berbagai historiografi dan cerita rakyat mencatat adanya resistensi, bahkan benturan budaya dan spiritual antara keyakinan lokal dan ajaran Islam yang datang dari luar.

Baca Juga: Tak Hidup 1 Zaman, Ternyata Wali Songo Terbagi 6 Angkatan, Ada Syekh Subakir

Salah satu sosok penting yang sering muncul dalam narasi penyebaran Islam di tanah Jawa adalah Syekh Subakir.

Ia bukan sekadar nama dalam legenda, melainkan tokoh asal Persia (sekarang Iran) yang disebut-sebut memiliki peran penting dalam “menaklukkan” kekuatan gaib yang menguasai pulau Jawa sebelum kedatangan Islam.

Dilansir SketsaNusantara.id dari buku Atlas Wali Songo karya KH Agus Sunyoto, berikut ini 5 hal penting tentang Syekh Subakir dan jejak spiritualnya di Gresik dan wilayah lainnya di Jawa.

Baca Juga: Misteri 3 Lokasi Makam Syekh Subakir, Ulama Persia di Balik Kisah Paku Tanah Jawa di Gunung Tidar Magelang

1. Syekh Subakir Dikirim untuk Menghadapi Jin dan Makhluk Gaib Jawa

Menurut historiografi Jawa yang dirujuk KH Agus Sunyoto dalam Atlas Wali Songo, Sultan al-Gabah dari negeri Rum pernah mengirim 20.000 keluarga muslim ke Jawa.

Namun, sebagian besar dari mereka tewas karena perlawanan gaib dan fisik. Maka, Sultan mengirim para ulama dan tokoh sakti, termasuk Syekh Subakir, untuk menghadapi para jin, siluman, dan brekasakan.

2. Ulama Persia yang Disebut Memasang “Tumbal” demi Menyucikan Tanah Jawa

Dalam kisah-kisah yang beredar, Syekh Subakir melakukan ritual penanaman tumbal berupa tanah tertentu ke tempat-tempat yang dianggap angker.

Tujuannya adalah menyucikan lokasi tersebut secara spiritual agar bisa dihuni oleh umat Islam. Tradisi ini dikenal masyarakat sebagai bagian dari usaha “menjinakkan” energi negatif.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Sumber: Atlas Wali Songo, Agus Sunyoto, Pustaka Iman, Jakarta, 2014

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X