Di Yunani Kuno, tradisi bersulang dikaitkan dengan dewa Dionysus, dewa anggur dan pesta. Dalam budaya Romawi, bersulang juga menjadi simbol persatuan dan penghormatan kepada para dewa.
Dalam beberapa teori, bersulang dan berdentingnya gelas juga dipandang sebagai cara untuk menunjukkan kepercayaan dan keamanan.
Biasanya, tuan rumah minum terlebih dahulu untuk membuktikan bahwa minuman yang dihidangkan tidak diracuni. Hal ini jadi kebiasaan penting di masa lampau lantaran racun sering digunakan untuk menghabisi musuh.
Seiring waktu, tradisi bersulang mulai berkembang di Eropa abad pertengahan sebagai bagian dari jamuan bangsawan dan mulai diikuti berbagai negara lain di Amerika dan Asia seperti China dan Korea Selatan.
Mengangkat gelas dan mengucapkan doa atau harapan baik menjadi cara untuk mempererat ikatan sosial, menghormati tamu, atau merayakan kemenangan seperti yang biasa dilakukan saat perayaan Tahun Baru.
Dalam konteks modern, bersulang dalam acara diplomatik bertujuan untuk menunjukkan penghormatan kepada tamu negara, memperkuat hubungan bilateral, dan menciptakan suasana hangat dalam acara jamuan makan malam.
Minuman yang digunakan biasanya bervariasi. Negara-negara Eropa dan Amerika biasanya menyajikan anggur atau champagne, sementara di negara-negara dengan sensitivitas budaya atau agama menyajikan minuman non-alkohol.
Di Indonesia, momen bersulang Prabowo-Macron memicu perdebatan.
Sebagian warganet mempertanyakan penggunaan tradisi bersulang yang tak sesuai dengan budaya Indonesia.
Minuman dalam gelas yang menyerupai champagne juga jadi isu sensitif di negara mayoritas Muslim, apalagi Prabowo kala itu mengenakan peci yang disebut-sebut jadi simbol keagamaan Islam.
Kritik ini muncul karena tradisi bersulang dianggap kurang sesuai dengan nilai-nilai Timur, terutama dalam negara mayoritas Muslim seperti Indonesia.
Dalam diplomasi, bersulang adalah gestur universal yang melambangkan kebersamaan dan penghormatan.
Di banyak negara mayoritas muslim, tak menggunakan tradisi bersulang. Seperti Arab Saudi misalnya, mengiringi acara jamuan makan malam saat ada kunjungan kenegaraan dengan doa dan sekedar bertukar cindera mata sebagai simbol mempererat hubungan diplomatis antar negara.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini
Artikel Terkait
Amed Salt Centre, Sentra Pemasaran Garam Amed Karangasem Bali: Bisnis Petani Garam Berbasis Tradisi yang Terus Lestari
Bikin Banyak Wanita Iri Karena Mandi Duit Bergepok-Gepok, Intip Tradisi Unik Pernikahan Suku Kalabari di Nigeria
Meriah Banget! 5 Tradisi Umat Kristiani Saat Menyambut Momen Kenaikan Yesus Kristus yang Penuh Makna, Gak Cuma Makan-Makan Bareng Keluarga
Tak Banyak yang Tahu, Ternyata Begini Tradisi Pemakaman Umat Hindu di Jember, Prosesi Sakral yang Sarat Makna Budaya, Mirip Seperti di Bali?
Siapa Pemilik Mobil Hyundai Palisade Berplat ZZH yang Dikawal Polisi Saat Mejeng di Salon? Anak Politisi Gerindra Ikut TerseretĀ
Liburan ke Candi Borobudur di Magelang? Ingat, Dilarang Injak Stupa Ya! Ini 2 Alasannya Menurut Balai Konservasi