Berasal dari keluarga ningrat, ia diberi kesempatan langka oleh pemerintah kolonial untuk melanjutkan studi kedokteran di Nederlandsche Indische Artsen School (NIAS) Surabaya, sekolah kedokteran yang menjadi cikal bakal Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair).
Namun, perjalanan Soebandi meraih gelar dokter bukanlah hal yang mudah. Kuliahnya sempat terhenti ketika Jepang menduduki Indonesia pada tahun 1942.
Kala itu, Jepang berhasil melumpuhkan Hindia Belanda (sekarang Indonesia) dan membubarkan lembaga pendidikan termasuk menutup NIAS, tempat Soebandi menuntut ilmu.
Soebandi pun tak putus asa. Ia kemudian melanjutkan studi di Ika Daigaku Jakarta, sekolah tinggi kedokteran yang dibuka Jepang dan lulus sebagai dokter pada 12 November 1943.
Setelah lulus jadi dokter, Soebandi terjun ke dunia militer melalui pendidikan Pembela Tanah Air (PETA). Pada tahun 1944, ia lulus menjadi perwira kesehatan dan ditugaskan di Batalyon PETA Karesidenan Malang.
Soebandi kemudian menjadi pejuang setelah ditunjuk menjadi Kepala Rumah Sakit Djawatan Kesehatan Tentara (DKT), kini RS Baladhika Husada, pada tahun 1946.
Di era Agresi Militer Belanda I (1947), keberadaan dokter sangat dibutuhkan. Soebandi menunjukkan keberanian dengan tetap mengoperasi prajurit TNI yang terluka parah, meski kondisinya berada di bawah tekanan Belanda.
Pada Desember 1948, ia diangkat sebagai Wakil Komandan Brigade III Damarwulan dan Residen Militer Besuki, merangkap dokter militer.
Perannya sebagai dokter dan pejuang menjadikannya sosoknya sangat diperlukan. Dokter Soebandi bahkan diminta hingga ke Jawa Tengah dan Jawa Barat.
Puncak perjuangannya terjadi pada 8 Februari 1949, saat pasukan Brigade III Damarwulan, yang dipimpin Letkol Moch. Sroedji, disergap Belanda di Desa Karang Kedawung setelah perjalanan gerilya panjang dari Kediri ke Jember.
Baca Juga: Taman Siswa Warisan Ki Hadjar Dewantara Sudah Jadi Sekolah Revolusioner sejak Zaman Kolonial Belanda
Soebandi yang berusaha menolong Letkol Sroedji terkena tembakan di kepala dan seketika gugur di tangan Belanda.
Jenazahnya ditemukan 13 bulan kemudian pada 23 Maret 1950 oleh dr. Sugeng, diidentifikasi dari peralatan suntik dan arloji di tubuhnya, lalu dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Patrang, Jember.
Artikel Terkait
Akhir Kisah Heroik Laksamana Malahayati, Pahlawan Nasional dari Aceh, Benarkah Gugur saat Perang?
Mengenal Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara: Gagal Menjadi Dokter, Malah Jadi Pahlawan Nasional
Apa Perbedaan Pahlawan Nasional dan Pahlawan Revolusi? Sama-Sama Gelar Terhormat, Ternyata Punya Sisi Lain
Berdiri Sejak Zaman Belanda, Masjid Baitul Amien Jember Punya Arsitektur Unik dan Sarat Makna, Dulu Dibangun dari Botol dan Gabah Sumbangan Warga
Bakal Bergelimang Kekayaan! Jember Punya 5 Sumber Daya Alam yang Bisa Menjadi Harta Karun Bagi Para Warga, Ternyata Menjadi Surganya Emas Berkilauan?
Sejak 1980-an, Bangunan di Jember ini Jadi Penjaga Warisan Budaya dan Pusat Edukasi, Tak Hanya Menyimpan Sejarah