Kamis, 4 Juni 2026

Warisan Sunan Muria yang Dilestarikan hingga Zaman Modern, Tujuannya untuk Melindungi Orang-Orang Sekitar

Photo Author
Boy Nugroho, Sketsa Nusantara
- Senin, 14 April 2025 | 13:00 WIB
Puncak Gunung Sunan Muria. (Instagram @ariefbagus)
Puncak Gunung Sunan Muria. (Instagram @ariefbagus)

SketsaNusantara.id - Di balik hijaunya lereng Muria, tersimpan nilai-nilai kehidupan yang telah dijalankan masyarakat selama ratusan tahun.

Tidak banyak yang tahu bahwa warisan ini telah tumbuh menjadi bagian dari keseharian, bahkan sebelum istilahnya populer secara nasional.

Dalam kehidupan sehari-hari, semangat gotong royong terasa begitu lekat di antara warga. Tradisi ini bukan sekadar rutinitas sosial, tapi telah menjadi nafas yang membentuk cara berpikir dan bertindak.

Baca Juga: 4 Pengaruh Sunan Muria yang Membentuk Masyarakat Jawa Islam dari Jepara hingga Pati: Pernah Membuat Begal Bertobat

Sebagian mungkin mengenalnya dengan nama “jogo tonggo”. Namun, jauh sebelum istilah ini dikenal luas, masyarakat di kawasan Muria telah menjalaninya dalam bentuk yang lebih dalam, filosofi Pagar Mangkuk.

Dilansir SketsaNusantara.id dari NU.or.id, ajaran ini diyakini berasal dari Raden Umar Said atau yang lebih dikenal sebagai Sunan Muria, salah satu Wali Songo yang menyebarkan ajaran Islam melalui pendekatan budaya dan kesenian.

Filosofi Pagarono Omahmu Kanti Mangkuk atau “pagarilah rumahmu dengan mangkuk” mengandung makna simbolik yang dalam. Mangkuk di sini bukan sekadar benda, melainkan lambang kepedulian dan kemurahan hati.

Baca Juga: Ondo Rante Danyang Sakti Desa Kalidoro Pati Pencuri Kitab Sunan Muria, Ternyata Bukan Seorang Kyai

Secara sederhana, ajaran ini mengajak masyarakat untuk melindungi rumah dan lingkungannya bukan dengan tembok, melainkan dengan kebaikan hati—dengan memberi, berbagi, dan peduli.

Dalam praktiknya, warga lereng Muria terbiasa saling mengirim makanan saat ada keluarga yang sedang sakit, membantu tetangga yang tertimpa musibah, atau sekadar hadir saat dibutuhkan.

Ajaran ini juga menciptakan sistem sosial yang kuat. Saat ada satu rumah mengalami kesulitan, tetangga sekitar sudah tahu harus berbuat apa. Tanpa disuruh, tanpa perlu diumumkan.

Baca Juga: 1 Amalan Wirid dari Sunan Muria, Salah Satunya Mampu Melapangkan Jalan Datangnya Rezeki, Jauh-Jauh Kemiskinan!

Versi lain dari ajaran ini menyebut bahwa pagar mangkuk merupakan bentuk perlindungan batiniah dan lahiriah.
Artinya, tidak hanya membantu secara fisik, tetapi juga menciptakan rasa aman, tenteram, dan saling percaya antarwarga.

Ketika pandemi Covid-19 merebak, istilah jogo tonggo menjadi populer di banyak wilayah. Namun bagi masyarakat lereng Muria, konsep itu sudah lama mereka jalankan dalam kehidupan sehari-hari.

Halaman:

Editor: Boy Nugroho

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X