Kamis, 4 Juni 2026

Rutin Jelang Hari Suci Nyepi, Intip Sejarah Ogoh-Ogoh yang Jadi Salah Satu Daya Tarik di Pulau Bali, Sudah Ada Sejak Tahun 1983

Photo Author
Diva Diah Liana Ningrum, Sketsa Nusantara
- Senin, 24 Maret 2025 | 21:30 WIB
Sejarah tradisi ogoh-ogoh yang dipertontonkan jelang Hari Suci Nyepi di Bali. (Freepik / freepik)
Sejarah tradisi ogoh-ogoh yang dipertontonkan jelang Hari Suci Nyepi di Bali. (Freepik / freepik)

SketsaNusantara.id- Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1947 merupakan momen paling ditunggu oleh masyarakat Hindu.

Salah satunya masyarakat Bali yang tak pernah absen merayakan serangkaian peringatan tersebut.

Adapun penampilan jelang Hari Suci Nyepi adalah iring-iringan ogoh-ogoh. Penasaran dengan sejarah tradisi itu?

Baca Juga: 6 Peraturan Penting untuk Wisatawan Saat Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1947 di Bali, Kalau Melanggar Awas Ada Pecalang!

Diketahui bahwa tahun ini Hari Suci Nyepi jatuh pada 29 Maret 2025. Maka perayaan ogoh-ogoh jatuh pada 28 Maret 2025.

Ogoh-ogoh berasal dari bahasa Bali yang berarti digoyang-goyangkan. Tradisi ini sudah ada sejak tahun 1983.

Maka sejak sejarah awal itu terukir di Pulau Bali. Maka presiden mengeluarkan keputusan bahwa Hari Suci Nyepi adalah hari libur nasional.

Baca Juga: Penonton Auto Kalang Kabut, Cek Penyebab Ogoh-Ogoh Nyaris Terbakar Habis saat Karnaval di Cirebon

Karena sebagai bentuk dorongan kepada masyarakat Bali untuk merayakan ogoh-ogoh di berbagai penjuru.

Sebagaimana seperti penampilannya bahwa iring-iringan tersebut merupakan karya seni patung.

Yakni menggambarkan kepribadian Bhuta Kala dalam ajaran Hindu Dharma. Bhuta Kala merepresantasikan kekuatan alam semesta yang tak terbantahkan.

Baca Juga: Merawat Ingatan, Menanam Semangat: Ketika Sejarah Dihidupkan di Layar dan Panggung Unipdu Jombang

Patung ini kerap ditemui dalam bentuk yang besar dan menakutkan. Bahkan muncul mitologi lainnya bahwa bentuknya seperti naga sampai gajah.

Tradisi ini penting dalam rangkaian Hari Suci Nyepi. Sebagai simbol insyafnya manusia akan alam semesta.

Halaman:

Editor: Zuhana Anibuddin Zuhro

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X