SketsaNusantara.id – Polemik Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Barat masih terus menjadi perhatian publik di media sosial.
Tak hanya dewan juri, Shindy Luthfiana selaku pembawa acara atau MC dalam kompetisi tersebut juga ikut menjadi perbincangan hangat dalam beberapa hari terakhir.
Shindy ramai dibicarakan setelah pernyataannya dalam video viral lomba tersebut karena dinilai telah melukai hati dan mematahkan semangat peserta dari SMAN 1 Pontianak yang tengah menyampaikan protes terhadap keputusan dewan juri.
Seperti diketahui, polemik bermula ketika salah satu peserta bernama Josepha Alexandra dari SMAN 1 Pontianak mendapat perlakuan tidak adil dari dewan juri.
Tim Josepha mendapat pengurangan nilai, sementara tim lawan dari SMAN 1 Sambas memperoleh poin penuh, padahal jawaban yang diutarakan sama bertahan.
Di tengah upaya peserta menyampaikan keberatan, Shindy selaku MC justru meminta Josepha menerima keputusan dewan juri dan menyebut protes tersebut kemungkinan hanya "perasaan" peserta semata.
“Mohon diterima saja ya keputusan dewan juri, karena pastinya dewan juri yang hadir ini sangat berkompeten dan sangat teliti dan mungkin itu hanya perasaan adik-adik saja,” ujarnya dalam cuplikan video Lomba Cerdas Cermat yang kini viral di media sosial.
Pernyataan itu langsung menuai kritik dari masyarakat. Banyak netizen yang menilai ucapan tersebut terkesan meremehkan peserta dan tidak menunjukkan sikap netral sebagai pembawa acara.
"MC itu sebagai pembawa acara juga berpartisipasi layaknya wasit dalam lomba ini. Tapi, tidak mendukung peserta, sangat merendahkan perkataannya malah membenarkan tindakan juri yang tidak adil, padahal mereka juga manusia biasa dan bisa salah melakukan kesalahan," komentar warganet di Instagram.
Akun Instagram pribadi Shindy pun ikut dibanjiri komentar pedas dari warganet, bahkan ia disebut sebagai "MC profesional penghancur mental regu SMAN 1 Pontianak".
Di tengah derasnya kritik publik, Shindy akhirnya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka melalui media sosialnya.
Dalam unggahannya, ia mengakui kesalahan dalam bertutur kata dan menyebut kejadian tersebut menjadi pelajaran penting untuk dirinya sendiri agar lebih berhati-hati dalam pikiran maupun berbicara ke depannya.