SketsaNusantara.id - Jefri Nichol ikut ramai jadi sorotan publik setelah mengunggah curhatan di media sosial yang mengungkapkan keengganannya ikut turun ke jalan di tengah aksi massa menolak Revisi Undang-Undang Tentara Nasional Indonesia (RUU TNI).
RUU yang telah disahkan DPR RI pada 20 Maret 2025 ini memicu gelombang demonstrasi di berbagai daerah karena dianggap membuka jalan bagi kembalinya dwifungsi ABRI.
Tak hanya itu, rangkap jabatan yang diberikan anggota TNI aktif juga memungkinkan militer terlibat dalam urusan sipil yang ikut mengancam kebebasan berpendapat.
Dugaan ini menguat usai jurnalis Tempo mendapat ancaman teror usai dikirimi kepala babi tanpa kepala hingga sejumlah bangkai tikus yang sudah busuk dengan kepala terpenggal.
Alih-alih bergabung dengan massa, Jefri justru menyuarakan keresahannya terhadap dinamika di kalangan pendemo, mengingat belakangan ini ramai diberitakan aksi unjuk rasa yang berujung ricuh di Surabaya, Malang dan kota-kota besar lainnya.
Dalam unggahannya di akun X miliknya Jefri Nichol mengungkapkan alasannya tak ikut turun ke jalan berdasarkan pengalamannya ikut demo 2 tahun lalu.
Menurutnya, saat massa turun ke jalan dan berkumpul memperjuangkan sesuatu maka mereka harus saling merangkul dan tidak membeda-bedakan satu sama lain.
"Yang bikin males turun tu ya orang orang kaya gini salah satunya, padahal lagi sama sama perjuangin sesuatu bukannya saling rangkul malah cari cari kesalahan sama mau keliatan paling pinter," tulis Jefri dikutip SketsaNusantara.id dari cuitannya di akun X @jefrinichol yang diunggah hari Senin, 24 Maret 2025.
Bintang film "Sri Asih" itu juga mengenang pengalamannya saat ikut demo pada tahun 2023. Ia mengaku dihujat karena tidak hafal detail pasal yang dipermasalahkan padahal hal tersebut tidak seharusnya menimbulkan perpecahan.
"Gua ditanya sama wartawan pasal berapa yang bermasalah, gua sebutin isi pasalnya yang mana tapi kalo pasal berapa tepatnya atau pasal pasal lain ya gua ga hafal di luar kepala," ungkap Jefri.
"Gua bilang lihat aja di google karena semua media pasti udah bahas itu dan banyak akun medsos yang bahas soal politik, eh malah ada yang ngegoreng dan itu kebanyakan dari para mahasiswa, mereka pengennya keliatan pinter sendiri bukannya ngerangkul," tandasnya.
Artikel Terkait
Demo Tolak UU TNI di Depan Gedung Grahadi Surabaya, Polisi Diduga Tembaki Massa Aksi dengan Water Cannon hingga Lakukan Penculikan
2 Jurnalis Jadi Korban Kekerasan Aparat saat Meliput Aksi Demo di Sukabumi, Begini Respon AJI Bandung Biro Sukabumi
Ketua AJI Surabaya Kecam Tindakan Kekerasan oleh Aparat Terhadap 2 Wartawan yang Meliput Demo, Sebut Polisi Tak Paham Tugas Jurnalis
Aksi Demo Tolak UU TNI Jember Heboh! Di Depan Ratusan Mahasiswa, Anggota DPRD Kabupaten Jember Ini Akui Tak Membaca Draft UU TNI
Aksi Demo Tolak UU TNI di Surabaya Chaos, Jurnalis Berita Jatim Alami Kekerasan Dari Polisi, Aktivis HAM Soroti 3 Hal Ini
Ambulance Bantuan untuk Aksi Demo di Karawang Diduga Dijebak Polisi, Begini Kronologi Lengkapnya