Namun, setelah datangnya Islam, kepercayaan terhadap ramalan dihapuskan. Umat Islam diajarkan untuk berserah diri kepada Allah dengan berpegang teguh pada konsep qadha dan qadar.
Hal itu ditegaskan dalam Al Quran, salah satunya dalam Surat Luqman ayat 34, yang menyatakan bahwa hanya Allah yang mengetahui hal-hal gaib, termasuk rezeki dan kematian seseorang.
UAH mengajak umat Islam untuk menjauhi segala bentuk ramalan, baik yang dianggap serius maupun hanya untuk hiburan. Menurutnya, hal-hal semacam ini tidak memiliki manfaat bagi kehidupan seorang muslim.
"Jadi, hal-hal yang semacam ramalan baik itu sifatnya canda dan sebagainya tinggalkan," lanjut UAH.
Berdasarkan pandangan ulama, mempercayai ramalan Shio dalam bentuk apa pun dihukumi sebagai syirik, yang merupakan dosa besar dalam Islam.
Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan untuk meninggalkan kebiasaan ini dan lebih mempercayai ketetapan Allah atas hidup mereka.
Sebagai gantinya, Islam mengajarkan umatnya untuk bertawakal dan berikhtiar dalam menghadapi masa depan, bukan bergantung pada ramalan yang tidak memiliki dasar kebenaran.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!