SketsaNusantara.id - Sholat adalah ibadah utama dalam Islam, disebut sebagai tiang agama yang menjadi fondasi iman seorang muslim.
Layaknya sebuah bangunan yang kokoh karena memiliki tiang yang kuat, agama seorang mukmin akan tegak dengan istiqamah menjalankan sholat.
Keutamaan sholat bukan hanya menjadikannya kewajiban, tetapi juga tolak ukur kesalehan dan ketakwaan seseorang.
Baca Juga: Isra Miraj Ternyata Bisa Jadi Momen untuk Mengajarkan Sholat kepada Anak, Bagaimana Caranya?
Dikutip SketsaNusantara.id dari NU.or.id, Allah memerintahkan kaum muslimin untuk menjaga sholat dalam firman-Nya:
"Peliharalah semua shalat fardlu dan shalat Wustha. Berdirilah karena Allah (dalam shalat) dengan khusyuk." (QS Al-Baqarah: 238).
Dalam kitab Tafsir Marah Labid, Syekh Nawawi Al-Bantani menjelaskan pentingnya menyempurnakan rukun dan syarat shalat.
Beliau memaparkan dua makna penjagaan shalat: hubungan antara hamba dan Allah, serta hubungan antara orang yang shalat dan ibadah itu sendiri.
Kedua makna ini menggarisbawahi bahwa menjaga shalat bukan sekadar rutinitas, tetapi juga bentuk ketundukan kepada Allah.
Makna pertama, menjaga shalat berarti menjaga hubungan dengan Allah. Orang yang konsisten shalat akan dimuliakan Allah dengan perlindungan dari berbagai hal yang tidak diinginkan.
Baca Juga: Sholat kok Korupsi? Fahruddin Faiz Jelaskan dari Pandangan Syekh Siti Jenar dan Sunan Kalijaga
Sebagaimana dijelaskan, ketakwaan yang terbangun melalui shalat menjadi jalan Allah untuk menjaga kebaikan hamba-Nya.
Makna kedua, shalat itu sendiri akan menjaga orang yang menunaikannya.