Dalam sebuah riwayat hadis dari juga disebutkan bahwa Rasulullah SAW menganjurkan untuk mengambil posisi duduk apabila saat marah dalam keadaan berdiri (HR Ahmad).
Dalam hadits lainnya disebutkan pula bahwa Rasulullah SAW membaca taawudz, ‘A’uudzu billahi minasy syaithanir rojiim (aku berlindung kepada Allah SWT dari godaan syaitan yamg terkutuk)’ untuk meredakan kemarahannya saat menghadapi istrinya yang sedang marah (HR Abu Adi).
Karena sesungguhnya kemarahan itu berasal dari bisikan setan, dan Nabi Muhammad SAW juga menganjurkan untuk berwudhu untuk memadamkan amarah dari bisikan setan yang terbuat dari api (HR Abu Daud).
Setelah itu, membaca istighfar sebanyak 3 hingga 7 kali, dengan penuh penghayatan sambil menarik napas panjang untuk meminta ampunan kepada Allah SWT sekaligus upaya meredam kemarahan saat menghadapi istri yang sedang marah.
Kemudian baca juga Ayat Kursi sebagai benteng perlindungan dari segala macam gangguan syaitan, termasuk untuk menenangkan hati yang gelisah, sekaligus untuk meredam amarah.
Lanjutkan dengan membaca dzikir asmaul husna "Ya Latifu Ya Shabur Ya Ghaffur", artinya "Allah yang Maha Lembut dan Maha Sabar Ampunilah segala dosaku".
Berdoalah dengan memohon diberikan kesabaran dan ketenangan batin agar bisa meredam amarah dalam menghadapi istri yang sedang marah.
"Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku dan dosa istriku. Berilah kami petunjuk dan hidayah-Mu. Jauhkanlah kami dari godaan setan yang terkutuk."
"Ya Allah, berikanlah kami kesabaran dalam menghadapi berbagai cobaan dan jagalah hati kami agar selalu tenang dan damai. Satukanlah hati kami dan jadikanlah rumah tangga kami sakinah, mawaddah, warahmah."
Selain membaca doa, Rasulullah SAW juga selalu mengajarkan beberapa untuk bersikap lembut dan santun kepada sang istri meski dalam keadaan marah.
Rasulullah SAW selalu menggunakan bahasa yang lembut dan menghindari kata-kata yang kasar atau menyakitkan saat menghadapi Aisya ra. ketika sedang marah.