SketsaNusantara.id - Wayang kulit terbukti menjadi alat dakwah Islam yang ampuh di masa Wali Songo, khususnya Sunan Kalijaga.
Perjuangan dakwah Wali Songo dengan menggunakan produk-produk seni budaya seperti wayang kulit menjadi bukti bahwa ajaran Islam dapat diterima warga lokal secara damai.
Wayang kulit sebagai alat dakwah Sunan Kalijaga juga tak bisa lepas dari sejumlah karakter khas yang muncul di masa dakwah Islam di Nusantara.
Sebelumnya, wayang memang sudah dikenal masyarakat Jawa, tetapi dalam bentuk wayang beber.
Cerita pewayangan di wayang beber disajikan dalam bentuk gulungan kain atau kertas. Sesuai dengan asal istilahnya, yakni "beber" yang berarti "menggelar" atau "membuka".
Karakter wayang beber di masa pra-Islam juga sangat berbeda dari wayang kulit. Salah satu perbedaannya adalah kehadiran karakter punakawan.
Punakawan terdiri dari Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Semar merupakan ayah dari ketiga karakter tersebut. Dalam versi wayang kulit Timuran (Jawa Tengah), yang menjadi anak pertama adalah Gareng.
Namun, dalam versi Banyumasan, yang menjadi anak tertua adalah Bagong dan disebut sebagai Bawor.
Selain perawakan dan tingkah laku mereka yang lucu, punakawan memiliki keunikan pada senjata yang selalu disarungkan di bagian belakang tubuh, terutama pada anak-anak semar.
Ada 3 senjata nyentrik yang dipakai Gareng, Petruk, dan Bagong, dan jelas-jelas memiliki perbedaan mencolok dari para ksatria pewayangan.
Lazimnya, para ksatria pewayangan memiliki senjata seperti gada, keris, tongkat, busur panah, atau yang bisa dipakai dalam pertempuran.