SketsaNusantara.id - Kehadiran nama Syekh Siti Jenar dalam sejarah penyebaran Islam di Nusantara kerap jadi sorotan.
Sosok Syekh Siti Jenar atau Syekh Lemah Abang sudah terlanjur dikenal sebagian besar masyarakat di Indonesia sebagai orang yang menyebarkan ajaran sesat.
Akibat ajaran tersebut, ia harus menjalani eksekusi hukuman mati oleh para Wali Songo.
Baca Juga: 5 Makam Syekh Siti Jenar dari Cirebon hingga Tuban, Mana yang Benar?
Faktanya, ada beragam versi mengenai eksekusi hukuman mati tersebut, hingga perbedaan pendapat soal makam dari sosok yang bernama asli Syaikh Datuk Abdul ini.
Keberagaman versi narasi dan penafsiran tentang tokoh kontroversial ini justru makin memperkaya khazanah Islam Nusantara.
Dari sekian banyak versi mengenai Syekh Lemah Abang, ada yang menyebut bahwa dia dihukum mati bukan karena ajarannya yang dianggap sesat.
Selama ini, kebanyakan masyarakat menganggap Syekh Siti Jenar menganut ajaran sesat yakni Manunggaling Kawula Gusti.
Ajaran tersebut dianggap sesat karena kerap disalahpahmi sebagai pengakuan diri sebagai Tuhan, alias menyamakan diri manusia sebagai Sang Pencipta.
Menurut KH Agus Sunyoto dalam buku Atlas Wali Songo (2014), diungkapkan bahwa Syekh Lemah Abang dihukum mati bukan karena ajaran Manunggaling Kawula Gusti yang dianggap sesat.
Ia justru dihukum karena kesalahannya mengajarkan ajaran rahasia itu kepada masyarakat umum secara terbuka.
Penjelasan itu disebutkan dalam Serat Siti Djenar (1922) dan secara gamblang digambarkan dalam dialog antara Syekh Siti Jenar dan Sunan Giri.