Sultan Agung memadukan penanggalan Jawa yang dasarnya adalah tahun Saka warisan kepercayaa Hindu dengan penanggalan kalender Hijriah.
Hal tersebut melahirkan akulturasi budaya hingga menjadi dampak penyebaran ajaran Islam di tanah Jawa.
Adapun istilah Suro dalam penanggalan Jawa diambil dari kata Asyura, hari ke-10 di bulan Muharram dalam kelander Hijriah.
4) Kirab Malam 1 Suro
Upacara adat yang dilakukan di malam 1 Suro salah satunya yaitu Kirab malam 1 Suro, pertama kali dilakukan oleh Keraton Surakarta.
Kirab berupa iring-iringan hasil panen, barisan kerbau bule, hingga sejumlah abdi dalem keraton yang mengenakan pakaian adat Jawa.
5) Tapa Bisu Mubeng Beteng
Fakta malam 1 Suro selanjutnya yaitu merupakan momen dilaksanakan tradisi Tapa Bisu Mubeng Beteng oleh Keraton Yogya.
Tradisi ini juga kerap kali diikuti oleh masyarakat sekitar yang melakukan kegiatan memutari pagar yang mengelilingi Keraton Yogya tanpa mengeluarkan suara atau membisu.
Selain upacara adat dan tradisi Jawa seperti yang dilakukan Keraton Surakarta dan Keraton Yogya, ada kegiatan lain yang sebagian dikerjakan masyarakat Jawa.
Di malam 1 Suro sebagian masyarakat Jawa atau kolektor benda pusaka juga melakukan pejamasan pusaka seperti keris dan sejenisnya.
Penjamasan atau pencucian benda pusaka ini sebagai bentuk refleksi membersihkan diri dari dosa-dosa.***