Di tempat itu Raden Rahmat bertemu dengan Ki Wiryo Saroyo yang menurut sumber lain dikenal sebagai Ki Wirajaya atau Ki Bang Kuning yang kemudian menjadi pengikut Raden Rahmat.
Menurut Babad Tanah Jawi sewaktu Raden Rahmat tinggal di Ki Bang Kuning, Raden Rahmat menikahi Putri Ki Bang Kuning yang bernama Mas karimah.
Baca Juga: Membongkar Kisah Megah Gedung Djoeang di Balik Sejarah Kota Solo yang Fungsinya Selalu Berubah-ubah
Dari pernikahan itu lahirlah 2 orang putri yang bernama Mas Murtosiyah dan Mas Murtosimah.
Selama tinggal di kediaman Ki Bang Kuning Raden Rahmat dikisahkan membangun masjid dan menyebarkan dakwah islam kepada masyarakat sekitar.
Demikian juga Ki Bang Kuning yang menjadi mertua dari Raden Rahmat juga turut serta mengembangkan dakwah Islam di sekitar kediamannya terutama melalui masjid yang dibangun oleh menantunya.
Menurut Serat Walisongo Raja Majapahit tidak langsung mengangkat Raden Rahmat di Ampeldenta, melainkan menyerahkannya kepada Adipati Surabaya bawahan Majapahit yang bernama Arya Lembusura yang beragama Islam.
Setelah itu, Arya Lembusura dikisahkan menempatkan Raden Rahmat sebagai imam di Gresik Surabaya dengan Gelar Sunan Ampeldenta dengan nama Pangeran Katib.
2. Gerakan Dakwah Kreatif Sunan Ampel
Berdakwah adalah tugas setiap muslim sesuai sabda Nabi Muhammad SAW, itulah sebabnya tidak peduli apakah orang muslim berkedudukan sebagai pedagang, tukang, petani, nelayan, atau pejabat semua memiliki kewajiban utama untuk menyampaikan kebenaran Islam kepada siapa saja dan di mana saja.
Raden Rahmat dikenal dengan gelar Sunan Ampel dalam catatan histografi lokal yang diketahui sebagai tokoh yang menjalankan amanat agama dengan sangat baik.
Melalui prinsip dakwah 'Maw'izhatul Hasanah Wa Mujadalah Billati Hiya Ahsan.