Sebelum menjadi penyebar ajaran agama Islam, Sunan Kalijaga saat remaja sering melakukan tindakan kekerasan seperti berkelahi, hingga merampok.
Sunan Kalijaga membobol gudang kadipaten dan mengambil bahan makanan kemudian dibagikan kepada orang yang memerlukan dengan sembunyi-sembunyi.
Saat penjaga sedang melakukan sebuah pengintaian keliling di sekitar gudang, Sunan Kalijaga kemudian tertangkap dan dibawa kehadapan sang ayah.
Perilaku yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga ini membuat ayahnya merasa malu dan kemudian mengusir Sunan Kalijaga dari istana.
Namun, setelah di usir Sunan Kalijaga tetap melakukan tindakan perampokan dan hasilnya juga tetap dibagikan kepada warga miskin.
Saat berada di hutan Sunan Kalijaga bertemu dengan Sunan Bonang dan ingin merampas tongkat darinya, alhasil perampokan tidak terjadi.
Sunan Kalijaga kemudian sadar dan berguru dengan Sunan Bonang seputar kebudayan, kesenian dan sastra jawa darinya hingga diangkat sebagai wali di tanah Jawa.
Sunan Kalijaga mengawali dakwahnya di desa Kalijaga Cirebon dan mengislamkan penduduk sekitar, dengan modal dakwah yang dilakukan adalah melalui pendekatan kesenian dan kearifan lokal.
Seperti kesenian wayang kulit, lakon wayang kulit yang dulu mengisahkan tentang dewa-dewa dari ajaran Hindu Budha diganti dengan cerita-cerita Islam.
Bentuk wayang juga diubah dimana bentuk yang dulu berupa manusia diubah dengan kreasi baru yang mirip karikatur.
Sebelumnya Sunan Kalijaga belajar memahami bagaimana watak dan karakter dari desa sekitar, yang mana penduduk desa sangat suka dengan kesenian juga nilai-nilai leluhur.
Selain itu, Sunan Kalijaga juga merancang pendekatan yang sesuai dengan penduduk jawa yang dinamakan dengan akulturasi budaya.
Akulturasi budaya adalah penambahan nilai-nilai ajaran islam melalui tradisi yang ada di masyarakat lokal.