SketsaNusantara.id – Memiliki rumah sendiri menjadi salah satu impian besar bagi banyak orang. Selain sebagai tempat tinggal, rumah juga menjadi simbol kestabilan hidup dan ruang berkumpul bersama keluarga. Namun, di tengah kondisi ekonomi yang tidak selalu mudah, mewujudkan impian tersebut kerap membutuhkan usaha panjang.
Dalam ajaran Islam, upaya untuk meraih keinginan tidak hanya dilakukan melalui kerja keras, tetapi juga diiringi dengan doa dan pendekatan spiritual. Salah satu amalan yang banyak dikenal di masyarakat berasal dari Habib Sholeh Al-Hamid, seorang ulama waliyullah dari Jember.
Amalan ini berupa doa yang dipanjatkan untuk memohon kemudahan dalam memiliki rumah. Doa tersebut mengandung permohonan kepada Allah SWT agar diberikan tempat tinggal terbaik, sehingga seseorang tidak lagi merasa kekurangan atau hanya bisa berandai-andai.
Amalan Habib Sholeh Tanggul ini cukup populer di masyarakat dan sudah dipraktekkan oleh banyak orang. Lantas, apa amalan dan bacaan doa tersebut?
Dilansir SketsaNusantara.id dari akun Instagram @dawuhguru, amalan dari Habib Sholeh Tanggul agar cepat punya rumah yang dimaksud adalah bacaan doa:
اَللّٰهُمَّ رَبَّ الْبَيْت، اَسْأَلُكَ بِجَاهِ أَهْلِ الْبَيْت، أَنْ تُيَسِّرَ لِي خَيْرَ بَيْت، حَتَّى لَا نَقُوْلُ يَالَيْت.
Allohhumma robbal bait, as 'aluka bijaahi ahlil bait, an tuyassiro lii khoiro bait, hattaa Laa naquulu yaa laiit.
Artinya, "Ya Allah Engkau pemilik Baitulloh. Hamba memohon dengan wasilah atau perantara Ahlil Bait (Rasulullah Saw) Agar Engkau mudahkan untukku sebaik-baiknya rumah, sehingga kami tidak mengucap 'Seandainya aku punya rumah'."
Dalam praktiknya, doa ini dapat dibaca secara rutin setiap hari tanpa batasan jumlah tertentu. Namun, banyak yang menganjurkan untuk membacanya setelah sholat fardhu atau pada waktu-waktu mustajab, seperti sepertiga malam usai sholat tahajud, serta setelah sholat Subuh dan Maghrib.
Selain itu, amalan ini juga dianjurkan untuk dibarengi dengan wirid dan aktivitas sehari-hari. Artinya, doa tidak hanya dilafalkan, tetapi juga diiringi dengan usaha nyata, seperti bekerja, menabung, dan mencari peluang ekonomi.
Menurut sejumlah praktisi keagamaan, kunci utama dari amalan ini adalah istiqamah dan keyakinan. Seseorang yang mengamalkannya diharapkan memiliki prasangka baik kepada Allah SWT serta kesungguhan dalam berikhtiar.