SketsaNusantara.id – Perasaan galau, gelisah, hingga sumpek merupakan kondisi yang kerap dialami banyak orang dalam kehidupan sehari-hari. Tekanan hidup, persoalan ekonomi, hingga masalah pribadi sering kali menjadi pemicu munculnya perasaan tersebut. Dalam perspektif Islam, kondisi ini tidak hanya berdampak pada pikiran, tetapi juga memengaruhi ketenangan hati dan kualitas ibadah seseorang.
Dalam sejarah Islam, terdapat berbagai amalan yang diajarkan para sahabat Nabi untuk menghadapi kondisi batin seperti ini. Salah satunya datang dari Ali bin Abi Thalib, yang dikenal sebagai sosok bijaksana sekaligus khalifah keempat dalam sejarah Islam.
Dilansir SketsaNusantara.id dari Youtube List Religi, amalan ini kembali disampaikan dalam ceramah oleh Habib Abdul Qodir Ba'abud, yang mengutip ajaran Sayyidina Ali bagi umat Muslim yang tengah dilanda kegelisahan. Menurutnya, dzikir menjadi salah satu cara efektif untuk menenangkan hati dan menjauhkan diri dari berbagai beban pikiran.
Dzikir yang dianjurkan tersebut berbunyi, “Bismillahirrahmanirrahim wala haula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adzim.” Kalimat ini mengandung makna penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah SWT, serta pengakuan bahwa tidak ada daya dan kekuatan selain dari-Nya.
Dalam ajaran yang dinukil dari Sayyidina Ali, disebutkan bahwa siapa saja yang membaca dzikir tersebut dengan penuh keyakinan, maka Allah SWT akan membersihkan hatinya dari rasa gelisah, kesempitan, serta menjauhkan dari berbagai bentuk musibah. Amalan ini juga diyakini dapat memberikan ketenangan batin bagi mereka yang sedang menghadapi tekanan hidup.
Fenomena galau dalam kehidupan modern sering kali diidentikkan dengan persoalan percintaan. Namun, dalam pandangan Islam, galau memiliki makna yang lebih luas, yaitu kondisi hati yang tidak tenang akibat berbagai persoalan duniawi. Hal ini bisa dialami oleh siapa saja, baik mereka yang kekurangan maupun yang hidup berkecukupan.
Seseorang yang dilanda kegelisahan biasanya mengalami gangguan dalam aktivitas sehari-hari, seperti sulit tidur, kehilangan nafsu makan, hingga menurunnya produktivitas. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk menata kembali kondisi batin agar tetap stabil.
Selain mengamalkan dzikir, Islam juga mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan antara usaha lahir dan batin. Menata hati agar tidak berlebihan dalam menyikapi masalah menjadi salah satu langkah penting untuk menghindari stres berkepanjangan.
Dalam hal ini, Ali bin Abi Thalib memberikan teladan bahwa kekuatan iman menjadi kunci utama dalam menghadapi berbagai ujian hidup. Dzikir bukan hanya sekadar bacaan, tetapi juga bentuk penguatan spiritual yang mampu memberikan ketenangan jiwa.
Habib Abdul Qodir Ba'abud juga menekankan bahwa amalan ini akan lebih efektif jika dilakukan dengan keimanan yang kuat serta keyakinan penuh kepada Allah SWT. Tanpa keikhlasan, dzikir hanya akan menjadi rutinitas tanpa makna mendalam.
Dengan demikian, amalan dari Sayyidina Ali ini menjadi salah satu solusi spiritual yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain mudah diamalkan, dzikir tersebut juga mengandung pesan penting tentang ketergantungan manusia kepada Tuhan.