Kutipan ayat tersebut menegaskan pentingnya manusia merenungkan perbuatan masa lalu untuk mempersiapkan bekal masa depan di akhirat.
"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula." (QS. Al-Zalzalah: 7-8)
Secara bahasa, Mhasabah berasal dari kata hisab yang berarti menghitung atau menimbang amal kebaikan dan keburukan diri sendiri.
Hal tersebut dapat dilakukan dengan merenungkan sejenak perbuatan yang telah dilakukan di masa lalu, dan memperbaiki sikap agar menjadi pribadi yang lebih baik di masa depan.
Muhasabah sebenarnya dapat dilakukan kapan saja. Namun banyak orang menjadikannya sebagai momen refleksi pada waktu-waktu tertentu, seperti saat ulang tahun, akhir tahun, atau ketika menghadapi peristiwa yang menggugah kesadaran tentang kehidupan.
Hal inilah yang kini dirasakan Gilang Dirga. Ia menyadari bahwa kematian bisa datang kapan saja dan ajal bisa menjemput siapa pun tanpa pandang memandang usia ataupun status seseorang.
Dalam unggahan di Instagramnya, ayah 1 anak itu juga menyampaikan permintaan maaf sekaligus menyatakan niatannya untuk memperbaiki diri.
"Aku ingin memperbaiki diriku agar suatu saat aku dikenang sebagai orang yang baik," tulisnya dalam unggahan di Instagram.
"Jika berkenan, maukah teman-teman IG berkomentar tentang apa yang akan kalian kenang tentang aku jika aku pergi? Sebagai masukan, agar jika ada kekurangan aku bisa memperbaikinya. Maafkan aku ya," pungkasnya.
Sikap Gilang Dirga tersebut menjadi pengingat bahwa muhasabah dapat menjadi langkah penting untuk mengenali kelemahan diri sebelum terlambat.
Dengan melakukan refleksi diri, seseorang dapat lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT, memohon ampunan, serta berusaha memperbaiki kesalahan yang pernah dilakukan.
esadaran seperti inilah yang diharapkan mampu mendorong perubahan positif, sehingga manusia dapat menjalani hidup dengan lebih bijak sekaligus mempersiapkan diri menghadapi pertanggungjawaban di akhirat kelak.
Kemuliaan manusia yang bermuhasabah, tak hanya untuk memperbaiki amal perbuatan tetapi juga menjaga kesehatan mental, dan mempersiapkan diri untuk kehidupan di akhirat.
Oleh karena itu, menjadikan muhasabah sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari dapat membantu seseorang menjadi pribadi yang lebih baik, lebih sadar diri, dan lebih taat kepada Allah SWT. ***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini