SketsaNusantara.id - Puasa merupakan kewajiban umat Islam di seluruh dunia. Ibadah ini dilaksanakan dengan menahan diri dari berbagai hawa nafsu. Selain menahan lapar dan dahaga, puasa juga menuntut pengendalian perilaku dan ucapan.
Dalam praktiknya, banyak pertanyaan muncul di tengah masyarakat. Salah satunya terkait kebiasaan berbohong saat menjalankan puasa Ramadhan.
Keraguan ini muncul karena berbohong termasuk perbuatan tercela dalam ajaran Islam.
Baca Juga: 3 Ide Takjil Yang Cocok Dijual Saat Bulan Ramadhan: Modal Kecil Namun Menguntungkan
Berbohong atau berdusta dipandang sebagai perbuatan yang bertentangan dengan nilai kejujuran.
Dalam ajaran Islam, perilaku ini memiliki konsekuensi moral dan spiritual. Dikutip dari nu.or.id, Rasulullah SAW bahkan menyebut kebiasaan berbohong sebagai ciri kemunafikan.
“Tanda orang munafik ada tiga: berkata bohong, ingkar janji, mengkhianati amanah,” (HR Bukhari & Muslim).
Larangan berbohong tidak hanya disampaikan melalui hadits. Al-Qur’an juga memberikan peringatan keras kepada para pendusta. Dalam Surah Az-Zumar ayat 60 digambarkan kondisi orang-orang yang berdusta pada hari kiamat kelak.
“Dan pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta terhadap Allah, mukanya menjadi hitam. Bukankah dalam neraka Jahannam itu ada tempat bagi orang-orang yang menyombongkan diri?”
Ayat tersebut menunjukkan bahwa berbohong memiliki dampak serius dalam kehidupan akhirat. Namun muncul pertanyaan penting terkait ibadah puasa. Apakah berbohong dapat membatalkan puasa seseorang secara hukum?
Dalam kajian fikih, pembatal puasa memiliki batasan yang jelas. Berbohong tidak termasuk dalam kategori perbuatan yang membatalkan puasa. Artinya, puasa tetap dinilai sah meskipun seseorang berbohong di siang hari Ramadhan.
Meski demikian, para ulama menegaskan adanya dampak lain yang tidak kalah penting. Berbohong dinilai mengurangi bahkan menghilangkan pahala puasa. Puasa tidak hanya dinilai dari sah atau batalnya ibadah secara formal.
Tujuan utama puasa Ramadhan adalah membentuk pribadi yang bertakwa. Ketakwaan tercermin melalui kejujuran, kehati-hatian, serta sikap adil dalam ucapan dan tindakan. Kejujuran menjadi salah satu karakter utama yang dibangun melalui ibadah puasa.