religi

Benarkah Tidur Orang Puasa Disebut Ibadah? Inilah Hadis-Hadis Lemah yang Masih Dipercaya Banyak Masyarakat Muslim

Selasa, 3 Februari 2026 | 20:00 WIB
Ilustrasi tidur saat bulan suci Ramadhan. (Pexels/cottonbro studio)

SketsaNusantara.id - Puasa Ramadhan merupakan ibadah wajib bagi umat Islam yang memiliki dimensi spiritual mendalam.

Pelaksanaannya tidak hanya menuntut ketahanan fisik, tetapi juga pemahaman keagamaan yang benar. Karena itu, penguatan ilmu menjadi hal penting agar ibadah tidak bersandar pada dasar yang keliru.

Di tengah tradisi Ramadhan, banyak ajaran yang beredar luas di masyarakat. Sebagian ajaran tersebut sering disampaikan melalui ceramah, tulisan, maupun media sosial.

Baca Juga: Sikat Gigi saat Puasa Ramadhan, Bolehkah atau Makruh? Ini Penjelasan Kitab Klasik dan Hadits tentang Kebersihan Mulut Orang Berpuasa

Namun, tidak semuanya memiliki landasan hadis yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Ketua Divisi Fatwa dan Pengembangan Putusan Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Ruslan Fariadi, mengingatkan adanya sejumlah hadis lemah bahkan palsu terkait puasa Ramadan. Menurutnya, kekeliruan dalam memahami hadis berpotensi memengaruhi kualitas ibadah umat.

Salah satu hadis yang sering dikutip berkaitan dengan kesehatan. Hadis tersebut berbunyi, “Berpuasalah, (niscaya) kalian akan sehat.” Hadis ini diriwayatkan Abu Nu’aim dan dinilai lemah oleh sejumlah ulama.

Baca Juga: Ada yang Pernah Dibakar Belanda hingga Ludes! Inilah 4 Masjid Pathok Negara Yogyakarta yang Wajib Jadi Destinasi Wisata Religi Selama Ramadhan 2026

Bahkan, sebagian pakar hadis menyebutnya tidak memiliki dasar yang kuat sebagai sabda Nabi Muhammad Saw.

Ruslan menegaskan bahwa manfaat kesehatan dari puasa bisa dibuktikan secara ilmiah. Namun, temuan ilmiah tersebut tidak serta-merta dapat disandarkan sebagai dalil agama. Ia menekankan pentingnya pemisahan antara kajian medis dan legitimasi hadis.

Hadis lain yang juga populer membahas tentang tidur orang yang berpuasa. Dalam masyarakat, tidur selama puasa kerap dianggap sebagai ibadah yang bernilai pahala. Hadis ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi dan dikategorikan lemah oleh para ahli hadis.

Ruslan menjelaskan bahwa tidak semua aktivitas tidur bernilai ibadah. Tidur yang berlebihan justru dapat menghilangkan kesempatan untuk melakukan amal saleh. Pemahaman semacam ini perlu diluruskan agar puasa tetap produktif secara spiritual.

Hadis berikutnya menyebutkan bahwa Ramadan terbagi menjadi tiga fase, yakni rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah, namun dinilai lemah oleh banyak ulama hadis. Bahkan, sebagian menilainya sebagai hadis munkar.

“Hadis munkar itu satu level di atas hadis maudhu’ (palsu),” kata Ruslan, dikutip SketsaNusantara.id dari Muhammadiyah.or.id.

Halaman:

Tags

Terkini