Sholawat yang dimaksud oleh Habib Muhammad bin Farid Al-Muthohar memiliki lafaz sebagai berikut:
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْحَبِيْبِ الْمَحْبُوْبِ شَافِي الْعِلَلِ
وَمُفَرِّجِ الْكُرُوْبِ وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ
Latin:
Allahumma sholli 'ala Sayyidina Muhammadin al-habibil mahbub syafi'il 'ilal wa mufarrijil kurub wa 'ala alihi wa sahbihi wasallim.
Sholawat ini berisi permohonan agar Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada Nabi Muhammad SAW, yang digambarkan sebagai kekasih Allah, penyembuh segala penyakit, dan penghilang kesulitan.
Lafaznya menekankan kasih sayang dan peran Rasulullah sebagai perantara rahmat bagi umat manusia.
Habib Muhammad bin Farid Al-Muthohar menekankan pentingnya membaca sholawat ini sebanyak 10 kali setiap malam Jumat.
Malam Jumat dalam tradisi Islam memang diyakini sebagai waktu yang penuh keberkahan dan tempat turunnya rahmat.
Selain membaca Al-Qur’an dan berzikir, memperbanyak sholawat menjadi bentuk pengingat atas kasih sayang Rasulullah kepada umatnya.
Tradisi membaca sholawat malam Jumat juga menjadi bagian dari warisan keagamaan yang terus dilestarikan di berbagai pesantren dan majelis taklim di Indonesia.
Amalan ini dipercaya membawa ketenangan batin, melapangkan rezeki, dan menjadi pengingat akan kehidupan setelah mati.
Membaca sholawat bukan hanya amalan ibadah, melainkan juga sarana meneguhkan hubungan spiritual antara umat dengan Rasulullah SAW.
Keutamaan yang dijanjikan dalam penjelasan Habib Muhammad bin Farid menunjukkan betapa besar nilai cinta dan penghormatan kepada beliau.