3. Utamakan Akhirat, Maka Dunia Ikut Menyusul
Dalam petuah ketiganya, Abah Guru Sekumpul menegaskan bahwa mengutamakan akhirat justru membuat dunia dan akhirat didapatkan sekaligus. Pandangan ini selaras dengan banyak ayat dan hadis yang menekankan keseimbangan: dunia sebagai sarana, bukan tujuan.
4. Dunia Penuh Tipu Daya
Petuah berikutnya berbunyi, “Dunia itu kejam dengan tipu dayanya.”
Pesan ini menggambarkan bahwa di balik gemerlapnya dunia, terdapat jebakan yang bisa menyesatkan hati manusia. Kekuasaan, popularitas, dan harta sering kali menjadi pintu masuk ke dalam kesombongan dan kelalaian.
5. Keindahan Dunia Hanyalah Fatamorgana
Dalam nasihat kelima, Abah Guru Sekumpul mengingatkan bahwa keindahan dunia hanyalah fatamorgana. Ia tampak memesona, tetapi tak memiliki hakikat kekal. Segala hal yang tampak indah di dunia ini akan sirna, menyisakan kesadaran bahwa yang abadi hanyalah akhirat.
6. Kekejaman Dunia Adalah Kenyataan
Petuah keenam berbunyi, “Kekejamannya adalah kenyataan.”
Kalimat ini menegaskan realitas keras kehidupan dunia: tak ada jaminan kebahagiaan abadi, bahkan bagi mereka yang berkuasa atau berharta. Dunia memperlihatkan wajah aslinya melalui penderitaan, kehilangan, dan kefanaan.
7. Dunia Hanyalah Ujian, Akhirat Balasannya
Petuah terakhir menyimpulkan seluruh pesan sebelumnya:
“Dunia hanyalah ujian, siapa yang lulus, akhiratlah balasannya.”
Dalam pandangan Abah Guru Sekumpul, kehidupan dunia adalah tempat ujian untuk mengukur keteguhan iman. Mereka yang sabar, jujur, dan ikhlas akan menerima ganjaran di akhirat kelak.