SketsaNusantara.id - Menitip doa kepada orang yang sedang melaksanakan ibadah haji memang sudah jadi tradisi sejak dulu.
Menjelang dan sepanjang bulan Dzulhijjah, mereka yang tinggal di Tanah Air sering minta didoakan kepada kerabat atau keluarga yang berangkat untuk melaksanakan ibadah haji.
Pasalnya, tidak semua orang diberi rezeki untuk menunaikan ibadah sakral tersebut. Oleh karena itu, banyak yang minta doa mereka “diwakilkan” oleh para jamaah yang mampu berangkat.
Bahkan, terkadang orang-orang bisa sampai menitipkan doa tersebut lewat tulisan di kertas agar bisa dibacakan di tanah suci, terutama di depan Ka’bah. Harapannya, doa yang dipanjatkan insyaaAllah lebih mustajab.
Akan tetapi, cara seperti ini sebetulnya tidak dianjurkan. Buya Yahya mengungkapkan dalam ceramahnya yang diunggah ke kanal YouTube Al-Bahjah TV pada tanggal 6 Juni 2025 bahwa minta titip doa itu boleh, tetapi jika sampai menyematkan pesan di kertas secara detail maka ini akan merepotkan jamaah.
“Minta doa boleh. Minta didoakan, bahasa lain menitipkan doa. Tapi jangan merepotkan. Doanya satu gebok begitu gak kebaca nanti bingung,” ujarnya sesuai yang dikutip oleh SketsaNusantara.id.
Buya Yahya menjelaskan bahwa Rasulullah SAW pun pernah minta titip doa kepada Sayyidina Umar bin Khattab saat hendak pergi umrah. Namun, tidak sampai merepotkan apa lagi dengan memberi banyak doa yang ditulis di kertas atau buku.
Bayangkan jika jamaah yang pergi ini punya banyak sahabat yang juga ikut menitipkan doa padanya. Tentu dia akan kalang kabut membaca semua satu per satu.
“Sudahlah, minta doain ‘saya selamat, bisa nyusul ke Makkah’. Itu saja sudah.” Buya Yahya menambahkan.
Selain masalah titip doa, dia juga menambahkan amanat untuk tidak minta dibelikan hadiah oleh jamaah haji. Justru lebih baik memberi mereka uang daripada meminta oleh-oleh.
Alasannya sama dengan perihal menitipkan doa ini. Umpamanya, jika satu orang ingin dibelikan hadiah, maka bagaimana jika yang lain juga ikut-ikutan? Bisa jadi memberatkan bawaan jamaah saat pulang ke Tanah Air.