religi

Jangan Berdebat dengan Orang Bodoh! Fahruddin Faiz Mengingatkan Lewat Nasihat Imam Syafi'i, Cocok untuk Survive di Medsos

Minggu, 25 Mei 2025 | 06:00 WIB
Ilustrasi. Alasan kenapa kita jangan berdebat dengan orang bodoh. (Pexels/SHVETS production)

Namun, orang yang menolak membuka diri terhadap perspektif lain cenderung menggunakan nalar ‘pokoknya’, merasa dirinya paling benar, dan tidak mengindahkan logika maupun bukti.

Kritik Tanpa Dasar dan Budaya “Pokoknya”

Fenomena 'pokoknya' atau sikap merasa paling benar tanpa mau mendengarkan pendapat lain mencerminkan krisis nalar kritis dalam masyarakat.

"Sehingga yang dia lakukan paling ya ngeyel, paling ya 'pokoknya', paling ya menganggap kebenarannya satu-satunya. Nggak mau mendengarkan argumen yang lain. Nggak mau mendengarkan dalil yang berbeda, nggak mau melihat perspektif yang berbeda, diskusi dengan orang semacam ini nggak akan menang," ujar Fahruddin.

Dalam kondisi seperti itu, memperpanjang debat menjadi sia-sia. Bahkan, para intelektual dan pakar pun bisa merasa kewalahan ketika argumen logis dibalas dengan sikap ngeyel.

Apa yang disampaikan Imam Syafi’i bukan sekadar petuah keilmuan, tetapi juga sebuah pengingat bahwa tidak semua debat layak dilanjutkan.

Memilih diam dalam beberapa situasi bukanlah tanda kekalahan, melainkan kebijaksanaan dalam menghadapi ketidaktahuan yang keras kepala.***

Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI!

Halaman:

Tags

Terkini