Allah tahu kualitas keimanan seseorang. Maka ujian diberikan bukan untuk menyiksa, tetapi untuk menempatkan sang hamba di posisi yang lebih tinggi. Hal itu seperti ujian bagi seorang siswa berbakat yang akan masuk ke kelas akselerasi.
Dengan sabar dan ikhlas dalam menerima musibah, seorang hamba sejatinya sedang melangkah naik menuju kedudukan yang lebih mulia di sisi-Nya.
3. Ganjaran Tak Terduga Melebihi Ibadah Sunnah
Poin terakhir dari Buya Yahya justru yang paling mengejutkan. Beliau mengatakan bahwa musibah yang dihadapi orang beriman bisa berubah menjadi pahala yang melebihi amalan besar seperti sholat tahajud yang dilakukan bermalam-malam, atau puasa sunnah selama berbulan-bulan.
Mengapa demikian? Karena ketika seorang hamba diuji, dan ia tetap bersabar, tawakal, serta bersangka baik kepada Allah, maka nilai ibadahnya melonjak tinggi. Kesabaran dalam menghadapi penderitaan adalah bentuk ibadah batin yang sangat mulia.
Pahala kesabaran dan tawakal inilah yang sering kali tak terlihat oleh manusia, tapi sangat bernilai di sisi Allah. Maka tak heran, musibah bagi orang beriman justru bisa menjadi “harta karun” tersembunyi di akhirat kelak.
Dalam hidup ini, tidak ada yang kebetulan. Setiap peristiwa, termasuk musibah sekalipun, hadir dengan izin dan skenario terbaik dari Allah. Tiga hikmah dari Buya Yahya ini bukan hanya menenangkan hati, tapi juga menjadi pengingat bahwa dalam setiap kesulitan, ada cahaya kasih sayang dari Sang Pencipta.
Musibah bukan akhir segalanya. Justru, bisa jadi awal dari kedekatan kita dengan Allah yang belum pernah kita rasakan sebelumnya.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!