"Ada beberapa keyakinan di masyarakat yang tidak sesuai dengan syariat Islam," ungkap Buya.
Menurut Buya Yahya, memilih hari untuk melangsungkan pernikahan adalah hal lumrah.
Namun, jika seseorang memilih hari dan meyakini hari itu misalkan membawa sial atau membawa mujur itulah yang salah.
"Tolong dibedakan, misal memilih jangan rebo legi karena pas pasaran (pasar hewan) jadi orang susah datang, sah sah saja," katanya.
Sebagian besar masyarakat salah satunya di lingkungan masyarakat Jawa ada pendapat yang mengenai tentang primbon atau kepercayaan dukun.
Sehingga, menjadikan sebuah hari itu keramat dan diyakini jika seseorang menikah waktu itu bisa tidak langgeng atau mudah bercerai dan sejenisnya.
"Jangan diyakini rebo legi adalah hari naas dalam pernikahan, harus kita rubah keyakinan itu, semua hari adalah baik," ujar Buya Yahya.
Termasuk menikah di bulan Syawal menurut pandangan Islam tetap bulan yang baik, begitu pula bulan lainnya.
Mungkin beberapa orang mencontoh Nabi Muhammad SAW yang menikah dengan Sayyidah Aisyah di bulan Syawal, sehingga mengatakan bulan ini baik untuk menikah.
Hal tersebut sah saja dan bisa dilakukan dengan tujuan yang baik, bukan bererti bulan lain tidak baik untuk menikah.
Terlebih bulan Syawal adalah momen berkumpul dengan sanak keluarga karena bertepatan dengan momen Idul Fitri.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!