Setelah itu, ia melanjutkan pendidikannya di The University of Tokyo dan berhasil meraih gelar Master of Engineering pada tahun 2002.
Ia juga meraih gelar Doctor of Philosohy (PhD) di bidang Quantum Engineering and System Science Department di kampus yang sama pada 2005.
Barulah sepulangnya ia dari Negeri Sakura, Brian kembali ke almamaternya sebagai dosen.
Karir dan pendidikan Brian yang cemerlang juga dapat terlihat dari deretan prestasi yang ditorehkannya.
Di tahun 2024, Brian berhasil meraih Habibie Prize, penghargaan bergengsi yang mendorong inovasi dan memperkuat ekosistem riset Indonesia.
Tak hanya itu, ia juga pernah masuk ke dalam daftar World’s Top 25 Scientist 2024, Top 1 Indonesia Researcher bidang Nanoscience & Nanotechnology.
Di ITB sendiri, Brian juga memiliki prestasi sebagai Peneliti Terbaik tahun 2021 dan Dosen Berprestasi bidang Saintek ITB tahun 2017.
Kiprahnya dalam dunia akademisi juga bisa dilihat dari ratusan publikasi yang berhasil ia terbitkan.
Ia juga memiliki beberapa Hak Kekayaan Intelektual (HKI) seperti Plarform Pemantauan Kualitas Udara hingga Alat untuk Mengukur Kualitas Air Limbah Industri yang Portable dan Terintegrasi IOT dengan fitur Kendali Jarak Jauh,
Tercatat, ada 6 hak paten dalam bidang pangan & kesehatan serta rekayasa transportasi dan energi atas nama Brian Yuliarto.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!