“Dana yang dikelola, Temasek nggak ambil dari dividen BUMN, atau PMN atau efisiensi APBN. Tapi aset yang sudah dikelola sejak awal, sama portofolio global dan dividen,” tulisnya seperti dikutip SketsaNusantara.id.
Selain itu, perbedaan lainnya yakni independensi yang dimiliki Temasek Holdings.
Kendati pemilik saham tunggal Temasuk adalah Kementrian Keuangan Singapura, namun tidak ada pejabat dalam struktur perusahaan yang mengambil keputusan.
“Adanya sejenis dewan penasehat aja. Tapi itu cuma menjaga arah makro supaya sejalan, mereka nggak memutuskan keputusan investasi,” tulis Ferry lagi.
Ia juga mengungkapkan, hal tersebut menjadi perbedaan paling fundamendal sekaligus menjadi nilai jual Temasuk.
“Dari awal emang fokusnya ROI, bukan agenda politik. Dan akhirnya ini yang jadi salah satu daya jualnya. Udah paham kan perbedaan krusialnya?” cuit Ferry lagi.
Sementara itu, Danantara menggunakan dividen BUMN, PMN dan hasil efisiensi APBN sebagai modal awal.
Menurut Ferry, Danantara bisa menjadi titik balik perubahan ekonomi Indonesia jika dikelola dengan benar.
Namun resiko besar juga menghantui Danantara karena bisa menyebabkan bencana ekonomi seperti defisit APBN dalam jumlah besar hingga kerugian BUMN.
Ferry juga menambahkan, untuk mampu menyamai keberhasilan Temasek, sangat penting untuk menjaga independensi Danantara dan memisahkannya dari agenda politik serta fokus kepada ROI (Return of Investment).***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!