SketsaNusantara.id - Pasca pemberitaan tentang pelajar yang berjuang menyeberangi sungai untuk sampai ke sekolah menggunakan rakit bambu, situasi ini menjadi perhatian publik.
Kondisi tersebut terjadi akibat terputusnya jembatan penghubung antara Desa Harjomulyo, Kecamatan Silo, dan Desa Sanenrejo, Kecamatan Tempurejo.
Sejumlah relawan pun bersiaga untuk membantu para pelajar tersebut.
Tidak hanya itu, kondisi ini juga berdampak pada masyarakat di Desa Harjomulyo yang berpotensi terisolir. Pasalnya, jembatan ini salah satu akses yang penting bagi masyarakat.
Ketua Relawan Baret Rescue David Handoko Seto mengatakan, adanya informasi siswa menyebrang menggunakan rakit bambu untuk sekolah, pihaknya segera menerjunkan armada untuk membantu.
Baca Juga: Pasca Banjir Bandang di Jember, PMI Salurkan 55.000 Liter Air Bersih untuk Warga Terdampak
“Kami turun langsung dan menyiapkan perahu karet untuk siswa yang hendak berangkat sekolah,” ujarnya saat dikonfirmasi, Kamis 16 Januari 2025.
David juga melakukan assessment di wilayah tersebut dan diketahui, ada masyarajat yang potensi terisolir di Kecamatan Silo Desa Harjomulyo.
“Kurang lebih ada sekitar 50 KK yang terisolir dan ditaksir sekitar 200 jiwa, karena efek jembatan yang terputus,” imbuhnya.
Kondisi masyarakat tersebut menurutnya, kerap kali melakukan aktivitas ekonomi di wilayah Tempurejo meskipun masuk dalam kecamatan Silo kependudukannya.
“Misal anaknya sekolah, kemudian berdagang dan melakukan aktivitas lainnnya di Kecamatan Tempurejo, karena aksesnya lebih dekat dibandingkan ke Silo,” ungkapnya.
Melihat hal tersebut, David menegaskan saat ini akses terputus dan kegiatan dilakukan dengan menerjang derasnya sungai, jadi dipersiapkan perlengkapan di lokasi.
Baca Juga: Kasus DBD di Jember Capai 1627 di Tahun 2024, Dinas Kesehatan: Angka Kematiannya Rendah