"Bahkan saat mesin pesawat mati pun masih bisa dikendalikan sehingga kemungkinan ada gangguan sistem hidrolis atau pilot tidak siap melakukan pendaratan, terlebih di bandara juga tidak seharusnya ada benda masif seperti pagar beton di jalur landasan," pungkas Alvin.
Sementara itu, otoritas setempat menyatakan bahwa black box juga bukan satu-satunya sumber meski perangkat ini sangat penting dibutuhkan untuk inverstigasi menganalisis kecelakaan Jeju Air.
Pihak berwenang juga mengandalkan sumber informasi lain, seperti catatan kontrol lalu lintas udara, rekaman video, dan puing-puing dari lokasi kecelakaan untuk menyelidiki insiden ini.
Mereka menegaskan bahwa meskipun data black box sangat penting, informasi tambahan tetap dapat digunakan untuk mengungkap penyebab kecelakaan.
Kementerian Transportasi Korea Selatan telah memerintahkan pemeriksaan darurat terhadap seluruh armada Boeing 737-800 yang beroperasi di negara tersebut.
Selain itu, mereka menyatakan bahwa investigasi Jeju Air akan memakan waktu berbulan-bulan untuk mendapatkan kesimpulan yang komprehensif.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!