Pemasangan karangan bunga tersebut seketika jadi viral dan menuai beragam reaksi dari masyarakat hingga jadi perdebatan di media sosial.
Tak sedikit netizen yang membela Prabowo-Gibran menyebut ucapan tersebut sebagai ujaran kebencian sekaligus penghinaan terhadap pemimpin negara.
Namun, ada pula netizen yang menyebut karangan bunga sebagai kritik pada pemerintah yang dianggap abai terhadap masalah dan isu-isu kritis yang beredar di masyarakat.
Bahkan, beberapa pengamat politik dan penggiat media sosial menyatakan kritik pada pihak kampus yang membekukan BEM dan mengaitkan dengan perkataan lawas Prabowo soal etika.
"Unair: Penggunaan narasi dalam karangan bunga tidak sesuai dengan etika dan kultur akademik insan kampus.
Prabowo: Ndasmu etik!
Hormat untuk BEM FISIP Unair," komentar akun @Dandhy_Laksono, jurnalis senior sekaligus co-founder watchdoc yang kerap membuat film dokumenter untuk mengkritik pemerintah.
Dandhy Laksono mengungkit perkataan Prabowo dalam forum Partai Gerindra yang menyindir kritikan Anies Baswedan soal etika yang dibalasnya dengan perkataan kasar "Ndasmu Etik".
Perkataan Prabowo tersebut sempat menuai kontroversi dan viral di media sosial. Mirisnya, perkataan bernada menghina tersebut malah dijadikan guyonan seolah-olah pantas dilontarkan di depan forum.
Dandhy Laksono juga menyindir "kultur akademik insan kampus" dengan mengunggah foto sidang doktoral Bahlil Lahadalia oleh Universitas Indonesia dan pemberian gelar doktor HC (Honoris Causa) pada Raffi Ahmad oleh UIPM yang menjadi kontroversi di masyarakat.
Unggahan Dandhy Laksono tersebut sontak mengundang komentar netizen dan mengungkit kembali soal etika Prabowo hingga sindiran pada dinasti politik Jokowi.
"Si paling menjunjung tinggi etika dan kultur. Seharusnya pihak kampus bangga punya mahasiswa fisip yang kritis dan peduli dengan bangsa ini, bukan malah membekukan BEM yang ingin menyuarakan keresahan mereka," komentar akun @dayatpiliang.
"Kata-katanya juga gak ada yang salah semuanya real sesuai fakta," komentar akun @Rexthatch. "Dekannya bilang BEM FISIP UNAIR kritiknya tidak beretika. Emang keluarga Jokowi selama ini menjalankan strategi politik pakai etika apa?? kocak," komentar akun @andikamalreza.
"BEM fisip unair dibekukan dekanat karena kritiknya dianggap keterlaluan. Gila ya, namanya juga murid fisip berekspresi politik kok malah dilarang, dongo," komentar akun @Wibudi.
Sementara itu, ketua BEM FISIP Unair menyebut pihak kampus telah memberikan surat panggilan untuk membahas terkait pembekuan yang dilakukan dekanat.
Seruan "Save BEM FISIP Unair" pun digaungkan di media sosial lantaran karangan bunga tersebut dibuat sebagai kritikan sekaligus ungkapan ekspresi kekecewaan terhadap fenomena Pemilu 2024.***