Selain itu, Erina dinilai kurang menyuarakan kerusuhan dan protes politik yang terjadi di Indonesia.
Secara khusus, Patricia mempermasalahkan kurangnya komentar Gudono tentang krisis yang sedang berlangsung, terkait dengan putusan terbaru oleh Mahkamah Konstitusi (MK)
Putusan tersebut menyatakan bahwa partai politik tidak diharuskan memiliki perwakilan minimal 20% untuk mengajukan kandidat, yang melonggarkan persyaratan untuk maju di Pilkada.
Kurang dari sehari kemudian, Badan Legislasi (Baleg) DPR RI mengajukan mosi darurat untuk membatalkan perubahan ini, yang disambut dengan kritik dan kekhawatiran luas.
Pada hari-hari berikutnya, masyarakat Indonesia melakukan protes di Jakarta dan kota-kota lainnya terhadap mosi yang diusulkan.
"Banyak sekali protes, semua teman saya protes dan kemudian terkena gas air mata," kata Patricia dikutip SketsaNusantara.id dari laman DP.
"Tidak adil jika pemerintahan Jokowi terus melakukan penindasan, dan Erina jadi tidak peka," sambungnya.
Patricia menambahkan, bahwa ia dan banyak orang lainnya merasa bahwa Erina Gudono seharusnya bebas untuk melanjutkan pendidikannya.
Namun, ia mendorong Penn untuk memikirkan pelamar di masa mendatang yang memiliki andil dalam mengganggu isu hak asasi manusia, dan isu demokrasi di negara mereka sendiri saat mempertimbangkan calon penerima beasiswa.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. KLIK DI SINI