Ia juga menceritakan bahwa ketika proses pembuatan tongkat tersebut, si mpu tidak menyaksikan langsung.
Namun, ia memiliki teknik tersendiri sehingga dapat membuat seperti aslinya. Kemudian, tongkat ini diserahkan oleh seseorang. Lalu, disimpan oleh Anies.
Ia juga menceritakan tentang cakra Pangeran Diponegoro yang asli. Cakra yang asli dibuat di era Kesultanan Demak pada abad ke-16.
Kemudian, 10 tahun sebelum Perang Jawa melawan Belanda, pada tahun 1815, tongkat tersebut diterima oleh Pangeran Diponegoro.
“Ini seakan penegas bahwa ini adalah ratu adil. Jadi, Pangeran Diponegoro memberikan pesan itu”. ujar Anies, dikutip oleh SketsaNusantara.id.
Pangeran Diponegoro menggunakan tongkat tersebut sebagai pegangan atau ageman pada saat berperang, tirakat, dan ziarah. Tongkat tersebut tidak digunakan berperang secara langsung.
“Yang asli ada di Museum Nasional, yang di sini adalah replikanya yang saya simpan di tempat ini saya jaga baik-baik. Sebagaimana pesan oleh si pembuatnya, Mpu yang menyiapkan ini semuanya. Mudah-mudahan kita dapat pelajaran dari apa yang kita lihat sebagai tongkat perjuangan Pangeran Diponegoro”, pungkasnya.***
Jangan sampai ketinggalan kabar-kabar terbaik setiap hari dari SketsaNusantara.id dengan bergabung di WhatsApp Channel SketsaNusantara.id. Klik di sini!